ARRAYYANNEWS
Ungkapan ini singkat, namun menghantam nurani. Ia sering dijadikan slogan, dibagikan di berbagai media, dan diulang dalam ceramah. Namun saat kebenaran benar-benar harus diucapkan, tidak sedikit yang memilih diam demi kenyamanan.
Kebenaran Tidak Selalu Manis
Kebenaran terasa pahit karena ia menampar ego, membongkar kesalahan, dan memaksa perubahan. Banyak orang lebih menyukai ketenangan semu daripada kejujuran yang menyelamatkan.
Namun sebagaimana obat, pahitnya kebenaran bukan untuk mencelakakan, melainkan untuk menyembuhkan hati dan peradaban.
Perintah Al-Qur’an untuk Berkata Benar
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)
Islam tidak mengajarkan berkata aman, tetapi berkata benar. Kebenaran tidak boleh ditawar demi citra, jabatan, atau kelompok.
اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ“Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)
Keberanian Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ menyampaikan kebenaran tanpa tawar-menawar, meski harus menghadapi caci maki dan pengusiran. Prinsip tidak pernah dijual demi keselamatan diri.
“Jihad yang paling utama adalah berkata benar di hadapan penguasa yang zalim.”(HR. Abu Dawud & Tirmidzi)
Diam Terhadap Kebatilan
Diam bukanlah sikap netral. Pembiaran terhadap kebatilan akan menjadikannya kebiasaan, lalu dibela, dan akhirnya dianggap kebenaran.
Pahit di Dunia, Manis di Akhirat
“Barang siapa mencari ridha Allah dengan kemurkaan manusia, maka Allah akan meridhainya dan menjadikan manusia pun ridha kepadanya.”(HR. Tirmidzi)
Ketika kebenaran terasa pahit, itulah saat iman diuji. Berani jujur mungkin menyakitkan hari ini, namun ia menyelamatkan untuk hari esok.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar