🌙 Mencari Setitik Cahaya dalam Kegelapan
Kerinduan seorang hamba kepada Rabb-nya
Namanya Arman. Hidupnya dulu jauh dari Allah. Malam-malam ia habiskan dalam gemerlap dunia, siang ia lalui dengan hati yang kosong. Ia merasa bebas, namun hatinya sesungguhnya terbelenggu. Setiap kali ia tertawa bersama kawan-kawan dunianya, ada bagian dari dirinya yang tetap hampa. Di balik cahaya lampu malam yang gemerlap, jiwanya terasa gelap gulita.
Suatu malam, setelah sekian lama larut dalam kelalaian, Arman duduk sendirian di kamarnya. Malam begitu sunyi, tidak ada teman, tidak ada musik, tidak ada suara. Hanya dirinya, dan hampa yang menyiksa. Tiba-tiba, kenangan masa kecilnya muncul. Ia teringat ibunya yang selalu membangunkannya shalat subuh, ayahnya yang menuntunnya membaca doa sebelum tidur, dan suara adzan yang dulu menenangkan hatinya. Air mata pun jatuh tanpa ia sadari.
Suara Hati yang Terabaikan
Arman merasa hatinya merindukan sesuatu. Bukan harta, bukan wanita, bukan pesta, melainkan ketenangan yang sejati. Ia mulai menyadari firman Allah yang dahulu sering ia dengar di masjid:
أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Ketenangan itu tidak ia temukan di dunia yang ia kejar selama ini. Justru semakin jauh ia dari Allah, semakin gelap pula hatinya.
Langkah Awal dalam Gelap
Malam itu, dengan tangan yang gemetar, Arman mengambil mushaf yang sudah lama berdebu. Ketika ia membukanya, matanya tertumbuk pada ayat ini:
قُلْ يَـٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Az-Zumar: 53)
Ayat itu seperti cahaya yang menyelinap ke dalam hatinya. Ia tersungkur menangis, merasakan betapa Allah masih memanggilnya meski ia penuh noda dosa.
Kerinduan yang Membawa Ketenangan
Hari-hari berikutnya, Arman mencoba memperbaiki hidupnya. Ia belajar wudhu lagi, meski canggung. Ia melangkah ke masjid dengan hati yang bergetar, merasa malu bertemu dengan Rabb yang lama ia tinggalkan. Namun saat ia sujud, ia merasakan ketenangan yang tak pernah ia dapatkan dari dunia.
وَهُوَ ٱلَّذِى يَقْبَلُ ٱلتَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِۦ وَيَعْفُوا۟ عَنِ ٱلسَّيِّـَٔاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ
“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya, memaafkan kesalahan-kesalahan, dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Asy-Syura: 25)
Setiap kali ia berdiri dalam shalat malam, hatinya terasa lebih ringan. Kerinduan yang dulu ia biarkan terabaikan kini menjadi kekuatan terbesar dalam hidupnya.
Allah Menyambut Taubat Hamba
Arman teringat sabda Rasulullah ﷺ:
“Allah lebih bergembira dengan taubat hamba-Nya, daripada kegembiraan seseorang yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang pasir.”
(HR. Muslim)
Ia tersenyum dalam tangis. Betapa Allah tidak pernah menutup pintu taubat, bahkan ketika dirinya telah lama jauh dari-Nya. Kini ia menemukan cahaya dalam sujud, menemukan ketenangan dalam doa, dan menemukan makna hidup dalam kerinduan kepada Allah.
Akhirnya Menemukan Cahaya
Malam-malam Arman kini tidak lagi ia habiskan dalam kegelapan dunia, melainkan dalam keheningan ibadah. Setiap doa adalah bisikan rindu, setiap sujud adalah tangis cinta, setiap ayat yang ia baca adalah cahaya yang menuntun langkahnya.
إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلْمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang mensucikan diri.”
(QS. Al-Baqarah: 222)
Dan di sanalah ia menemukan jawaban: setitik cahaya dalam kegelapan, adalah cahaya Allah yang selalu menunggu hamba-Nya untuk kembali.
🌙 Bab 2: Langkah Pertama Menuju Allah
Serial Cerpen Dakwah: Cahaya dalam Kegelapan
Pagi itu, setelah malam panjang penuh tangis taubat, Arman menatap wajahnya di cermin. Ada sembab di matanya, tapi entah mengapa ia merasakan sesuatu yang baru: harapan. Hatinya masih dipenuhi rasa bersalah, namun juga ada getar kerinduan. Ia tahu, kini saatnya melangkah. Sekecil apa pun langkah itu, asalkan menuju Allah.
Belajar Wudhu Kembali
Arman berjalan ke kamar mandi. Sudah lama ia tidak berwudhu, bahkan gerakannya hampir ia lupakan. Dengan hati-hati ia membasuh tangannya, berkumur, membasuh wajahnya. Air yang dingin menyentuh kulitnya terasa lain, seolah membersihkan bukan hanya debu dunia, tapi juga noda hatinya.
إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلْمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang mensucikan diri.”
(QS. Al-Baqarah: 222)
Ayat itu terngiang dalam hatinya. Ia merasa seakan air wudhu itu adalah salam cinta dari Allah, menyambutnya kembali sebagai hamba yang berusaha pulang.
Langkah Malu ke Masjid
Saat adzan dzuhur berkumandang, Arman memberanikan diri menuju masjid. Langkahnya pelan, hatinya penuh rasa malu. Ia takut dipandang orang, takut diingatkan masa lalunya, tapi kerinduan pada Allah lebih kuat daripada rasa takut itu.
Begitu sampai, ia duduk di saf paling belakang. Suara imam menggetarkan hatinya, setiap ayat seolah ditujukan langsung untuk dirinya.
وَهُوَ ٱلَّذِى يَقْبَلُ ٱلتَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِۦ وَيَعْفُوا۟ عَنِ ٱلسَّيِّـَٔاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ
“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya, memaafkan kesalahan-kesalahan, dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Asy-Syura: 25)
Air matanya kembali jatuh. Ia merasakan betapa luasnya kasih sayang Allah, meskipun dirinya sering mengkhianati janji sebagai seorang hamba.
Sujud Pertama setelah Lama Jauh
Ketika sujud, Arman menangis tersedu-sedu. Keningnya yang dulu jarang menyentuh sajadah kini terasa basah. Hatinya bergetar, ia berbisik dalam doa:
رَبِّ ٱغْفِرْ لِى وَتُبْ عَلَىَّ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ
“Ya Rabb, ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
Di sajadah itu ia menemukan ketenangan yang selama ini ia cari. Tidak ada pesta, tidak ada gemerlap dunia, hanya ada sujud, tangis, dan cinta Allah.
Langkah Kecil, Doa Besar
Usai shalat, seorang jamaah tua menepuk pundaknya. “Nak, wajahmu tenang sekali. Semoga Allah selalu menjagamu,” ucapnya. Arman tertegun. Ternyata cahaya kecil dalam dirinya mulai terlihat oleh orang lain. Ia berjanji dalam hati: langkah ini tidak akan berhenti. Ia ingin terus melangkah, hingga benar-benar kembali kepada Rabb yang ia rindukan.
إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَـٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan berkata: Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.”
(QS. Fussilat: 30)
Bab ini hanyalah awal. Perjalanan Arman masih panjang. Tapi satu hal yang ia yakini, setiap langkah kecil menuju Allah tidak akan pernah sia-sia.
🌙 Bab 3: Godaan di Jalan Hijrah
Serial Cerpen Dakwah: Cahaya dalam Kegelapan
Hari-hari Arman mulai berbeda. Ia terbiasa mendengar lantunan adzan, terbiasa melangkah ke masjid, terbiasa membuka mushaf yang dulu berdebu. Namun perjalanan menuju Allah tidak selalu mudah. Justru saat ia mencoba mendekat, godaan datang lebih besar dari sebelumnya.
Ajakan Teman Lama
Suatu sore, ketika Arman baru pulang dari masjid, ponselnya berdering. Nama yang muncul di layar membuatnya terdiam: Dika, teman dekatnya dulu, kawan satu meja dalam setiap pesta. Dengan ragu ia mengangkat.
“Man, lama banget nggak nongkrong. Malam ini ada acara, kamu harus ikut. Biar seru kayak dulu,” suara Dika penuh antusias.
Arman terdiam. Hatinya bergejolak. Ia teringat malam-malam penuh gelak tawa, tapi juga penuh dosa. Kini ia sudah berbeda, tapi rasa takut ditinggalkan teman begitu kuat.
وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيْطَـٰنِ نَزْغٌ فَٱسْتَعِذْ بِٱللَّهِ ۚ إِنَّهُۥ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Dan jika kamu ditimpa godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-A’raf: 200)
Arman menutup telepon dengan alasan singkat. Tapi hatinya gelisah. Malam itu ia sulit tidur, bayangan masa lalu datang silih berganti. Ia tahu ini adalah ujian pertamanya di jalan hijrah.
Pertarungan Batin
Di kamar, Arman duduk termenung. Ia berkata dalam hati: “Ya Allah, aku lemah. Dunia ini menarikku kembali. Jangan biarkan aku jatuh lagi.”
Ia teringat sabda Rasulullah ﷺ:
“Sesungguhnya surga dikelilingi dengan hal-hal yang dibenci, dan neraka dikelilingi dengan syahwat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Saat itu ia sadar, jalan hijrah bukan jalan yang mulus. Akan ada godaan, ejekan, bahkan cobaan. Tapi ia juga yakin, Allah selalu bersama orang yang bersabar.
Kekuatan dari Shalat
Arman lalu bangkit mengambil wudhu. Ia menegakkan shalat dua rakaat, dengan doa yang panjang. Air matanya mengalir, suaranya lirih: “Ya Allah, jangan palingkan hatiku setelah Engkau beri hidayah. Tunjukilah aku jalan orang-orang yang Engkau cintai.”
ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
(QS. Al-Fatihah: 6)
Selesai shalat, hatinya lebih tenang. Ia merasa Allah menguatkannya. Malam itu ia memutuskan: tidak akan kembali ke jalan lama, meski harus kehilangan semua teman dunianya. Sebab yang ia cari bukan sekadar tawa, tapi ridha Allah.
Pelajaran Berharga
Keesokan harinya, ia menuliskan satu kalimat di buku catatannya: “Hijrah adalah perjalanan melawan diri sendiri. Godaan akan datang, tapi Allah selalu lebih dekat daripada semua godaan itu.”
Dan di sanalah Arman belajar bahwa istiqamah dimulai dari pertarungan kecil yang ia menangkan di dalam hatinya sendiri.
🌌 Bab 4: Air Mata di Sepertiga Malam
Serial Cerpen Dakwah: Cahaya dalam Kegelapan
Beberapa hari setelah menolak ajakan teman lamanya, Arman mulai merasakan perubahan besar dalam hatinya. Namun ada satu rasa yang masih mengganjal: kerinduan yang dalam, yang tidak bisa diisi oleh aktivitas sehari-hari. Ia merasa ada ruang kosong yang hanya bisa dipenuhi dengan mendekat kepada Allah di waktu sunyi.
Bangun di Waktu Sepi
Malam itu, tanpa alarm, Arman terbangun. Jam menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Kota masih terlelap, hanya suara jangkrik yang menemani. Ia teringat ceramah ustadz di masjid: “Di sepertiga malam, Allah turun ke langit dunia dan berkata: siapa yang berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan.”
هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ، هَلْ مِنْ دَاعٍ فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ
“Adakah yang meminta, niscaya Aku beri? Adakah yang berdoa, niscaya Aku kabulkan? Adakah yang memohon ampun, niscaya Aku ampuni?”
(HR. Bukhari & Muslim)
Dengan gemetar, Arman berwudhu. Air yang dingin menyentuh wajahnya, seolah membersihkan sisa-sisa dosa yang masih menempel. Ia berdiri menghadap kiblat, lalu menegakkan shalat tahajjud pertamanya setelah bertahun-tahun.
Tangisan di Sajadah
Rakaat demi rakaat ia jalani dengan suara terbata. Saat membaca Al-Fatihah, hatinya tersentuh pada doa paling agung:
ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
(QS. Al-Fatihah: 6)
Air matanya tumpah, membasahi sajadah. Ia merasa seolah-olah Allah benar-benar mendengarkan bisikan hatinya. Dalam sujud panjang, ia berdoa: “Ya Allah, jangan biarkan aku kembali pada kegelapan. Jadikan aku hamba yang Engkau cintai.”
Ketenangan yang Tidak Pernah Ia Rasa
Usai shalat, Arman duduk termenung. Hatinya begitu damai, jauh lebih tenang dibandingkan semua kesenangan dunia yang pernah ia kejar. Untuk pertama kali, ia merasakan apa itu manisnya iman.
أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Malam itu menjadi titik balik. Ia mulai membiasakan diri bangun malam, menjadikan tahajjud sebagai tempatnya mencurahkan isi hati. Dari sajadah itulah, ia belajar bahwa Allah lebih dekat daripada yang ia bayangkan.
Pelajaran Sepertiga Malam
Arman menuliskan di buku catatannya: “Air mata di sepertiga malam lebih berharga daripada tawa di gemerlap dunia. Sebab di sanalah aku benar-benar menemukan diriku, menemukan Rabb-ku.”
Ia pun sadar, hijrah bukan hanya meninggalkan dosa, tapi juga mengisi hati dengan cinta dan kerinduan kepada Allah.
🏠 Bab 5: Ujian dari Keluarga
Serial Cerpen Dakwah: Cahaya dalam Kegelapan
Perubahan Arman tidak hanya terlihat oleh dirinya sendiri, tapi juga keluarganya. Ia yang dulu pulang larut malam, kini lebih banyak di rumah. Ia yang dulu meninggalkan shalat, kini sering ke masjid. Namun, ternyata tidak semua keluarganya bisa menerima perubahan itu dengan mudah.
Keraguan dari Ayah
Suatu malam, ayahnya memanggilnya ke ruang tamu. Dengan wajah serius, ayah berkata: “Man, apa benar kamu sudah berubah? Jangan-jangan ini cuma sementara. Ayah takut kamu hanya pura-pura baik, lalu kembali seperti dulu.”
Kata-kata itu menusuk hati Arman. Ia ingin berteriak bahwa ia sungguh-sungguh, tapi ia memilih diam dan menunduk. Dalam hatinya, ia berdoa: “Ya Allah, kuatkan aku menghadapi keraguan mereka.”
وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً ۗ أَتَصْبِرُونَ ۗ
“Dan Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar?”
(QS. Al-Furqan: 20)
Ejekan dari Adik
Adiknya pun terkadang mengejek, “Ah, sok alim! Baru juga hijrah, udah ceramah sana-sini.” Arman hanya tersenyum, meski hatinya pedih. Ia sadar, memang mudah bagi orang untuk mengingat masa lalunya, dan sulit percaya pada dirinya yang baru.
Ia teringat sabda Rasulullah ﷺ:
“Islam menghapus dosa-dosa yang ada sebelumnya.”
(HR. Muslim)
Arman yakin, meski manusia mengingat dosa-dosanya, Allah telah mengampuni ketika ia bertaubat dengan sungguh-sungguh.
Kesabaran sebagai Kunci
Hari-hari berikutnya, Arman terus berusaha menunjukkan ketulusan lewat perbuatan, bukan kata-kata. Ia membantu pekerjaan rumah, ia menemani ayah ke masjid, ia menyapa adiknya dengan lembut. Perlahan, keluarganya mulai melihat bahwa perubahan itu nyata.
إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّـٰبِرِينَ
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 153)
Penerimaan
Suatu hari, ibunya menatapnya dengan mata berkaca-kaca: “Nak, ternyata doa ibu selama ini Allah kabulkan. Ibu bangga padamu.”
Mendengar itu, Arman menangis di pelukan ibunya. Ia sadar, ujian dari keluarga hanyalah bagian dari proses untuk memperkuat niat hijrahnya. Kini ia lebih yakin, jalan yang ia pilih adalah jalan yang benar.
🤝 Bab 7: Kekuatan Ukhuwah
Serial Cerpen Dakwah: Cahaya dalam Kegelapan
Sejak meninggalkan lingkungan lamanya, Arman sering merasa sepi. Ia tak lagi punya teman nongkrong, tak ada lagi tawa riuh yang dulu mengisi malam-malamnya. Namun, Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nya berjalan sendirian di jalan kebaikan.
Pertemuan Pertama
Suatu sore setelah shalat ashar di masjid, seorang pemuda menyapanya. “Mas sering ke masjid sini, ya? Saya Fikri,” ucapnya sambil tersenyum. Dari obrolan singkat itu, Arman tahu bahwa Fikri adalah ketua komunitas pemuda masjid yang sering mengadakan kajian dan kegiatan sosial.
Arman diajak bergabung. Awalnya ia ragu, tapi akhirnya ia ikut. Di sana ia bertemu banyak orang seumuran yang punya semangat sama: ingin memperbaiki diri dan mendekat kepada Allah.
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”
(QS. Al-Hujurat: 10)
Saudara Seiman
Arman mulai merasakan kehangatan yang berbeda. Mereka bukan sekadar teman, tapi saudara. Mereka saling mengingatkan untuk shalat tepat waktu, saling berbagi ilmu, bahkan saling menolong ketika ada yang kesulitan.
Ia teringat sabda Rasulullah ﷺ:
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam kasih sayang, cinta, dan kelembutan mereka bagaikan satu tubuh; bila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh merasakan sakit dan demam.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Dukungan di Jalan Hijrah
Ketika Arman hampir goyah, sahabat barunya selalu hadir menguatkan. Saat ia bimbang soal pekerjaan, mereka mendoakannya. Saat ia jatuh dalam kesedihan, mereka menghiburnya dengan ayat-ayat Allah.
Dalam ukhuwah itu, Arman belajar bahwa hijrah bukan hanya perjalanan pribadi, tapi juga perjalanan bersama saudara seiman yang saling menopang di jalan Allah.
Hikmah yang Didapat
Arman menuliskan dalam catatannya: “Jika teman lama membawaku pada gelapnya dosa, maka sahabat baru menuntunku pada cahaya iman. Allah mengganti setiap kehilangan dengan yang lebih indah.”
🌱 Bab 8: Dakwah Lewat Perbuatan
Serial Cerpen Dakwah: Cahaya dalam Kegelapan
Setelah merasakan manisnya iman, Arman mulai bertanya pada dirinya: “Apa yang bisa kulakukan untuk menebar kebaikan?”. Ia sadar, dakwah tidak selalu harus dengan kata-kata, melainkan juga dengan sikap dan teladan.
Perubahan Sikap
Arman yang dulu mudah marah, kini belajar sabar. Ia yang dulu sering mengabaikan orang tua, kini berusaha berbakti. Dari perubahan kecil itu, orang-orang di sekitarnya mulai memperhatikan.
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّن دَعَا إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَـٰلِحًۭا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shalih, dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”
(QS. Fussilat: 33)
Menjadi Teladan
Di lingkungan rumahnya, Arman membantu membersihkan musholla kecil yang lama terbengkalai. Ia juga rutin mengajak anak-anak mengaji setelah maghrib. Perlahan, masyarakat mulai mengenalnya bukan lagi sebagai “pemuda bermasalah”, melainkan “pemuda yang membawa berkah”.
Sahabat lamanya yang dulu menjerumuskannya pun kaget melihat perubahan itu. Sebagian mencibir, namun sebagian lain diam-diam kagum. Ada di antara mereka yang akhirnya ikut shalat berjamaah setelah melihat kesungguhan Arman.
Dakwah dengan Akhlak
Arman teringat hadits Rasulullah ﷺ:
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad)
Dari situ ia paham, akhlak adalah bahasa dakwah paling universal. Senyum, tolong-menolong, jujur, dan sabar—semua itu bisa menjadi pintu hidayah bagi orang lain.
Buah dari Dakwah
Suatu malam, seorang teman lamanya menghampiri dengan mata berkaca-kaca. “Man, ajari aku shalat lagi… Aku iri melihatmu tenang.” Arman terdiam, hatinya bergetar. Inilah buah dari perjalanan panjangnya—Allah menjadikannya jalan hidayah bagi orang lain.
Dengan penuh syukur ia berkata dalam hati: “Ya Allah, dulu aku hanyalah seorang pendosa. Kini Engkau izinkan aku menjadi jalan kebaikan bagi orang lain. Inilah sebaik-baiknya karunia.”
🌧️ Bab 9: Ujian dan Kesabaran
Serial Cerpen Dakwah: Cahaya dalam Kegelapan
Hijrah bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari ujian. Setelah meninggalkan kehidupan kelam, Arman diuji dengan hal-hal yang mengguncang hati dan imannya.
Godaan Masa Lalu
Suatu malam, seorang teman lama mendatanginya dengan tawaran besar: “Man, ada proyek cepat, uangnya banyak. Kau hanya perlu ikut sebentar, tak ada yang tahu.” Hatinya goyah. Ingatan tentang kesulitan ekonomi membuat ia hampir tergoda.
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَىْءٍۢ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِينَ
“Dan sungguh akan Kami uji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 155)
Kehilangan yang Menyakitkan
Tak lama kemudian, ibunya yang selalu mendoakan meninggal dunia. Kesedihan itu membuatnya hampir terpuruk. Ia menangis lama di sisi pusara, merasa kehilangan penopang terbesar dalam hidupnya.
Namun ia teringat pesan ibunya: “Nak, jangan pernah tinggalkan Allah. Jika Ibu tiada, yakinlah doa Ibu sudah mendahuluimu.”
Kekuatan dalam Doa
Dalam sujud panjangnya, Arman memohon kekuatan. Ia sadar, semua cobaan adalah cara Allah membersihkan sisa dosa-dosa lamanya.
“Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah, baik berupa kelelahan, penyakit, kesedihan, kesusahan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, kecuali Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya dengan itu.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Hikmah dari Ujian
Arman akhirnya memahami, kesabaran adalah kunci. Dengan ujian, Allah mengajarinya untuk tidak lagi bergantung pada dunia, melainkan hanya kepada-Nya. Dari setiap air mata, ia merasakan hatinya semakin dekat pada Sang Pencipta.
Ia berbisik dalam doa: “Ya Allah, jika ini jalan untuk membersihkan hidupku, maka aku ridha. Jangan lepaskan aku dari genggaman-Mu.”
🌸 Bab 10: Manisnya Keteguhan Iman
Serial Cerpen Dakwah: Cahaya dalam Kegelapan
Hari-hari penuh ujian telah Arman lewati dengan kesabaran. Meski berat, ia memilih tetap teguh di jalan Allah. Dan kini, perlahan ia mulai merasakan buah yang manis dari keteguhan itu.
Ketenangan Batin
Dulu, hatinya selalu gelisah meski bergelimang dunia. Kini, walau hidup sederhana, hatinya terasa tenang. Setiap kali ia mendengar lantunan Al-Qur’an, dadanya dipenuhi kedamaian yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Rezeki Penuh Keberkahan
Arman kini bekerja dengan cara halal, meski penghasilannya tak sebesar dulu. Ajaibnya, uang itu selalu cukup. Bahkan sering ada rezeki tak terduga yang datang. Ia merasakan keberkahan yang membuat hidupnya ringan.
Ia teringat sabda Nabi ﷺ:
“Tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, melainkan Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.”
(HR. Ahmad)
Cinta Allah
Dalam doa-doanya, Arman merasakan seolah-olah Allah dekat sekali dengannya. Ia merasakan ketenangan yang hanya diberikan kepada hamba-hamba yang Allah cintai.
Suatu malam, ia menangis haru dalam sujud: “Ya Allah, betapa manis hidup dalam iman. Jika aku tahu begini indahnya, aku tak akan pernah berpaling dari-Mu.”
Hidup Baru
Arman kini dikenal masyarakat sebagai sosok yang ramah dan penuh semangat membantu. Ia bukan hanya menyelamatkan dirinya, tapi juga menjadi cahaya bagi sekitarnya. Jalan hijrah yang berat, kini berganti dengan manisnya iman.
✨ Bab 11: Menebar Cahaya Hidayah
Serial Cerpen Dakwah: Cahaya dalam Kegelapan
Setelah merasakan manisnya iman, Arman tidak ingin menyimpannya sendiri. Ia ingin orang lain juga merasakan cahaya hidayah yang telah mengubah hidupnya. Maka ia mulai menebar kebaikan melalui langkah-langkah kecil.
Kajian dan Anak-Anak
Setiap sore, Arman mengajar anak-anak mengaji di musholla kampung. Suaranya yang dulu dipakai untuk lagu-lagu dunia, kini ia lantunkan untuk ayat-ayat Allah. Anak-anak pun menyayanginya, memanggilnya “Kak Arman guru ngaji.”
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
(HR. Bukhari)
Membantu Sesama
Arman juga aktif dalam kegiatan sosial. Ia membantu membagikan sembako untuk fakir miskin, memperbaiki rumah janda tua, dan menggalang dana untuk anak yatim. Masyarakat semakin menghormatinya, bukan karena kekayaan, tapi karena ketulusan hatinya.
Dakwah dengan Lembut
Sahabat-sahabat lamanya yang dulu menjerumuskan, kini menjadi objek dakwahnya. Ia tidak menasihati dengan keras, melainkan dengan kasih sayang. Ia mengajak mereka minum kopi sambil berbicara pelan tentang ketenangan hidup dalam iman.
Ia teringat firman Allah:
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik.”
(QS. An-Nahl: 125)
Buah dari Dakwah
Perlahan, satu demi satu dari mereka mulai luluh. Ada yang kembali ke masjid, ada yang berhenti dari pekerjaan haram. Arman menangis haru melihat mereka ikut bersujud di sampingnya.
Ia sadar, dulu ia hanyalah seorang pendosa. Namun Allah menjadikannya jalan hidayah bagi orang lain. Itu adalah nikmat terbesar dalam hidupnya.
🌙 Bab 12: Doa di Sepertiga Malam
Penutup Cerita: Cahaya dalam Kegelapan
Malam itu sunyi. Semua orang terlelap dalam tidur, namun Arman terbangun. Ia mengambil wudhu dengan penuh khusyuk, lalu berdiri menunaikan shalat tahajjud. Air mata menetes membasahi sajadahnya, mengingat dosa-dosa masa lalu yang begitu banyak.
وَمِنَ ٱلَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةًۭ لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًۭا مَّحْمُودًۭا
“Dan pada sebagian malam, lakukanlah tahajjud sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu membangkitkanmu ke tempat yang terpuji.”
(QS. Al-Isra: 79)
Dalam doanya, Arman berbisik lirih:
“Ya Allah, Engkau telah menarikku dari gelapnya maksiat menuju cahaya iman. Jangan biarkan aku kembali tersesat. Terimalah diriku yang hina ini, dan jadikan aku hamba yang Engkau cintai.”
Ketenangan Sejati
Sejak malam itu, Arman menemukan ketenangan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Bukan lagi kesenangan dunia yang dikejarnya, melainkan rida Allah. Ia sadar, hidup hanyalah sementara, dan yang abadi adalah kebahagiaan akhirat.
Arman kini menjadi sosok yang berbeda: seorang pendosa yang bertobat, lalu menjadi penyeru kebaikan. Bukan karena kehebatannya, tapi karena rahmat Allah yang begitu luas.
Penutup
Kisah Arman adalah cermin bagi siapa pun yang merasa sudah terlalu jauh dari Allah. Bahwa pintu taubat selalu terbuka, dan hidayah bisa datang kapan saja, kepada siapa saja. Selama masih ada napas, masih ada kesempatan untuk kembali.
قُلْ يَا عِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. Az-Zumar: 53)
Dengan akhir yang penuh harapan ini, semoga kita pun tergerak untuk senantiasa mendekat kepada-Nya, sebelum pintu taubat tertutup selamanya.
📜 Epilog: Pesan untuk Pembaca
Cahaya dalam Kegelapan – Refleksi Akhir
Kisah Arman mengingatkan kita bahwa tidak ada manusia yang terlalu jauh dari rahmat Allah. Setiap dosa dapat dihapus dengan taubat yang sungguh-sungguh, setiap kesalahan bisa diganti dengan kebaikan, dan setiap hati yang gelisah bisa menemukan ketenangan dalam mengingat-Nya.
وَأَنِيبُوا۟ إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا۟ لَهُۥ
“Dan kembalilah kepada Tuhanmu dengan penuh taubat dan berserah diri kepada-Nya.”
(QS. Az-Zumar: 54)
Pesan untuk kita semua:
- Jangan pernah takut untuk bertaubat, meski dosa terasa terlalu besar.
- Bersabarlah menghadapi ujian, karena kesabaran membawa berkah dan keberkahan.
- Pilihlah pergaulan yang mendekatkan kita kepada Allah, dan jauhi yang menjerumuskan.
- Hidupkan dakwah melalui akhlak dan amal, bukan hanya kata-kata.
- Ingat, setiap langkah kecil menuju kebaikan adalah cahaya dalam gelapnya hidup.
Semoga kisah ini menjadi inspirasi, menyalakan cahaya iman di hati pembaca, dan mengingatkan bahwa pintu rahmat Allah selalu terbuka bagi hamba-Nya yang ingin kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar