📖 Cahaya yang Menyentuh Hati Arman
Kisah insyafnya seorang pendosa
Arman lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya seorang guru mengaji, sementara ibunya seorang penjual sayur di pasar. Dari kecil, ia sudah terbiasa mendengar lantunan Al-Qur’an di rumah. Namun ketika remaja, ia mulai tergoda pergaulan. Awalnya hanya nongkrong hingga larut malam, lalu merokok, minum-minuman keras, hingga akhirnya terjerumus ke dunia narkoba dan uang haram.
Doa ibunya setiap malam sering kali ia anggap angin lalu. Padahal ibunya selalu menangis dalam sujudnya, memohon agar anaknya kembali ke jalan Allah. “Ya Allah, jangan biarkan anakku hilang di jalan gelap…” begitu doa yang tak pernah putus dari lisan sang ibu.
Kehampaan
Bertahun-tahun Arman hidup dalam dunia hitam. Dari luar tampak “berhasil”: uang berlimpah, motor besar, pakaian mahal, teman-teman yang selalu mengelilinginya. Namun di dalam hatinya ada ruang kosong yang tak pernah bisa diisi. Semakin ia tertawa dalam pesta, semakin hampa jiwa yang ia rasakan.
Sampai pada suatu malam, ia terlibat perkelahian hebat di sebuah klub malam. Polisi datang, temannya terluka parah, dan Arman melarikan diri dalam ketakutan. Nafasnya terengah-engah ketika sampai di sebuah taman kecil, duduk di bangku tua dengan wajah pucat. Saat itulah terdengar lantunan ayat dari masjid kecil dekat taman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ
"Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(QS. Az-Zumar: 53)
Arman tertegun. Ayat itu seakan menyapanya langsung. Tangannya bergetar, matanya panas, lalu air mata jatuh deras. Ia menunduk, menutup wajahnya, dan berbisik lirih:
“Ya Allah… aku kotor, aku penuh dosa. Tapi… apakah Engkau masih mau menerimaku?”
Pintu Taubat
Dengan langkah gontai, Arman masuk ke masjid. Jamaah baru saja selesai shalat isya. Seorang lelaki tua melihatnya berdiri ragu di pintu. Lelaki itu tersenyum dan berkata lembut:
“Masuklah Nak, rumah Allah tidak pernah menutup pintunya untuk siapa pun yang ingin pulang.”
Kalimat itu menembus dadanya lebih dalam dari apa pun. Malam itu, Arman bersujud untuk pertama kali setelah bertahun-tahun. Sajjadah yang ia pijak basah oleh air matanya. Ia membaca istighfar berulang kali, dan dalam hatinya ia berjanji akan meninggalkan jalan hitam yang selama ini ia jalani.
“Allah lebih bergembira dengan taubat seorang hamba-Nya, daripada kegembiraan seseorang yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang pasir.”
(HR. Muslim)
Perubahan
Hari-hari berikutnya penuh ujian. Teman-teman lamanya mengajak kembali ke dunia kelam. Tawaran uang haram datang, godaan gaya hidup lama pun menghampiri. Namun setiap kali ia tergoda, ia teringat ayat yang ia dengar malam itu dan senyum ibunya yang penuh harap.
Ia mulai bekerja halal meski hanya sebagai kuli bangunan. Ia belajar shalat tepat waktu, membaca Al-Qur’an kembali, dan menghadiri majelis ilmu. Setiap langkah kecil terasa berat, namun hati yang dulu hampa kini terisi oleh ketenangan.
Ibunya menangis haru ketika melihat anaknya kembali berubah. “Alhamdulillah, Nak… doa ibu terjawab. Kau akhirnya pulang,” ucapnya dengan pelukan penuh air mata.
Arman tahu jalannya masih panjang. Tapi ia yakin, sebagaimana firman Allah:
إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلْمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang mensucikan diri.”
(QS. Al-Baqarah: 222)
Ia kini hidup dengan keyakinan kuat: Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni, selama seorang hamba benar-benar kembali kepada Rabbnya dengan hati yang ikhlas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar