Jumat, 26 September 2025

📖 Langkah Seorang Bradalan

Dari Jalanan Menuju Cahaya

“Tak ada manusia yang terlalu gelap untuk disinari cahaya Allah.”

Sebuah Novel Islami



📖 Novel: Langkah Seorang Bradalan – Dari Jalanan Menuju Cahaya

Bab 1 – Malam yang Panjang

Langkah-langkah Raka menyusuri trotoar malam itu terasa berat. Gitar tuanya ia gendong di punggung, sementara kantong celana bolongnya hanya berisi beberapa receh sisa mengamen di perempatan lampu merah.

Angin malam menusuk tulang, bercampur asap kendaraan yang tak pernah berhenti. Lampu-lampu kota berkelip, seakan mengejek kehidupannya yang gelap. Ia berhenti di bawah jembatan layang, tempat yang biasa jadi rumahnya bersama beberapa anak jalanan lain.

“Bro, dapat berapa malam ini?” tanya Bima, sahabatnya yang sibuk menggulung sebatang rokok lintingan.

Raka melempar koin receh ke lantai semen yang dingin. “Nggak banyak. Orang-orang sekarang lebih milih tutup kaca mobil daripada buka dompet.”

Mereka tertawa hambar. Tawa yang lebih mirip peredam kesedihan daripada tanda bahagia.

Raka bersandar, menatap langit yang samar di balik gedung-gedung tinggi. Entah apa yang kucari. Hidupku seperti hanyut tanpa tujuan. Sejak kabur dari rumah tiga tahun lalu, jalanan adalah rumahnya, gelandangan adalah keluarganya, dan rasa hampa adalah sahabat setia yang tak pernah pergi.

Malam itu, hujan mulai turun. Anak-anak jalanan yang lain sibuk mencari kardus untuk berteduh. Raka merapatkan jaket tipisnya, lalu menggenggam gitar. Jemarinya pelan memetik senar, menyanyikan lagu yang ia buat sendiri.

“Aku hilang arah… dunia begitu asing… adakah rumah untuk seorang seperti aku?”

Namun suaranya tenggelam oleh gemuruh hujan dan deru kendaraan. Tak ada yang peduli. Tak ada yang mendengar.

Hanya Raka, kesendirian, dan hatinya yang kosong.


Bab 2 – Teh Hangat di Masjid

Hujan deras makin menjadi. Jalanan mulai sepi, hanya sesekali motor melintas dengan cipratan air yang membuat Raka makin menggigil. Gitar tuanya ia dekap, seakan itu satu-satunya harta paling berharga dalam hidup.

Matanya menoleh ke kiri, terlihat sebuah bangunan sederhana bercahaya dari dalam. Sebuah masjid kecil di pojok gang. Lampunya kuning temaram, tapi hangat.

Tanpa pikir panjang, Raka berlari melawan derasnya hujan, masuk ke serambi masjid, dan menurunkan tas lusuhnya. Lantai keramik basah oleh jejak kakinya, membuatnya sedikit canggung.

“Assalamu’alaikum…” suaranya lirih, ragu.

Dari dalam, seorang lelaki tua bersorban putih muncul. Wajahnya teduh, janggutnya memutih. Ia tersenyum ramah.
“Wa’alaikumussalam, Nak. Masuk saja, jangan di luar. Basah nanti sakit.”

Raka menunduk, merasa asing. Ia jarang masuk masjid. Bahkan shalat pun sudah lama ia tinggalkan.
“Boleh… berteduh sebentar, Pak?” tanyanya pelan.

“Boleh. Semua rumah Allah terbuka, Nak.” Ustadz tua itu lalu pergi sebentar dan kembali membawa segelas teh hangat.
“Nih, minum dulu. Kau pasti kedinginan.”

Raka menerima gelas itu dengan tangan bergetar. Aroma teh hangat menenangkan jiwanya. Ia menyeruput perlahan, lalu menahan napas. Entah mengapa, ada rasa haru yang muncul tanpa sebab.

“Terima kasih, Pak…” ucap Raka, menahan air mata yang tiba-tiba hendak jatuh.

Ustadz tua itu duduk di sampingnya, tersenyum sambil menatap hujan di luar.
“Kau tahu, Nak? Hujan ini bukan sekadar air. Dalam Al-Qur’an, Allah menyebut hujan sebagai rahmat. Tanda kasih sayang-Nya pada bumi. Mungkin malam ini, hujan juga rahmat untukmu. Allah sedang mengetuk hatimu.”

Raka terdiam. Kata-kata itu terasa menembus dinding hatinya yang selama ini keras.

Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa seperti manusia lagi. Ada yang peduli. Ada yang menerima.

Dan dalam keheningan masjid kecil itu, Raka merasakan sesuatu yang asing, tapi hangat… sebuah cahaya kecil yang mulai tumbuh di dalam jiwanya.



Bab 3 – Sujud Pertama

Malam itu, setelah hujan mereda, adzan Isya berkumandang. Suaranya menggema dari pengeras suara masjid kecil itu, menusuk lembut ke dalam hati Raka.
“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”

Raka meneguk ludah, resah. Ia sudah lama tidak mendengar adzan dengan hati yang terbuka. Biasanya, suara itu hanya jadi latar belakang jalanan yang ia abaikan. Tapi kali ini, berbeda.

Ustadz tua tadi melangkah ke dalam masjid, lalu menoleh.
“Raka, ayo ikut shalat bersama.”

Raka terdiam. Dadanya berdegup keras.
“Tapi… saya nggak suci, Pak. Saya sudah lama sekali nggak shalat.”

Ustadz itu tersenyum bijak.
“Tak ada kata terlambat. Allah tidak melihat masa lalumu, Nak. Dia melihat langkahmu sekarang.”

Raka menunduk. Ada pertempuran dalam dirinya: malu, takut, ragu… tapi juga ada kerinduan yang selama ini ia tekan. Akhirnya, dengan kaki berat, ia melangkah masuk.

Ia berdiri di shaf paling belakang. Tubuhnya gemetar. Saat imam mengucapkan takbir, Raka pun mengangkat tangannya—takbir pertama setelah bertahun-tahun.

“Allahu Akbar…”

Air mata jatuh tanpa bisa ia tahan. Sujud itu terasa asing, namun di situlah Raka merasa paling dekat dengan sesuatu yang selama ini hilang: Rabb yang Maha Pengasih.

Di antara isak yang ia tahan, ada bisikan lembut dalam hatinya:
“Kamu tidak sendirian. Aku selalu menunggumu kembali.”

Malam itu, Raka menemukan ketenangan yang tidak pernah ia temukan di jalanan, di gitar, bahkan di tawa hambar bersama teman-temannya.

Itu adalah sujud pertamanya… dan ia tahu, ini bukanlah yang terakhir.



Bab 4 – Persimpangan

Sejak malam itu, Raka mulai sering singgah di masjid kecil tersebut. Kadang hanya untuk duduk mendengarkan ustadz tua berceramah, kadang untuk ikut shalat berjamaah meski masih canggung. Hatinya terasa ringan setiap kali melangkah keluar dari masjid, seolah ada beban besar yang terangkat.

Namun kehidupan jalanan tidak serta-merta melepaskannya.

Suatu sore, Bima—sahabatnya di jalanan—menyapanya dengan wajah bingung.
“Rak, belakangan ini lu sering hilang ke mana? Anak-anak nyariin lu. Katanya lu udah berubah.”

Raka terdiam. Ia menatap gitar di tangannya, lalu menatap Bima.
“Gue cuma… nemuin tempat buat tenang. Di masjid.”

Bima terbahak sinis.
“Masjid? Halah, Rak… jangan bercanda. Lu pikir doa bisa bikin perut kenyang? Kita butuh uang, bukan ceramah.”

Kata-kata itu menampar hati Raka. Ia tahu benar kerasnya hidup di jalanan. Tapi ada sesuatu yang berbeda kini: rasa yakin bahwa rezeki datang dari Allah, bukan semata hasil keringat di lampu merah.

“Bim, gue juga butuh makan. Tapi gue capek hidup gini terus. Kayak nggak ada arah.”

Bima menghela napas panjang, lalu menepuk bahu Raka.
“Lu pikir gampang keluar dari jalanan? Kita nggak punya rumah, nggak punya keluarga. Satu-satunya keluarga kita ya geng ini. Kalau lu pergi, jangan pernah balik lagi.”

Ucapan itu membuat dada Raka sesak. Ia merasa ditarik ke dua arah: persaudaraan jalanan yang selama ini jadi dunianya, dan jalan hidayah yang perlahan membuka pintu baginya.

Malam itu, di bawah lampu kota yang temaram, Raka duduk sendirian. Gitar di pangkuannya, tapi tak ada lagu yang bisa ia nyanyikan.

Air matanya jatuh. Ia menengadah ke langit, berbisik lirih:
“Ya Allah… aku lemah. Aku nggak tahu harus pilih jalan mana. Kalau memang Engkau tunjukkan aku jalan-Mu… tolong kuatkan aku.”

Hatinya bergetar. Untuk pertama kalinya, doa itu terasa begitu nyata.



Bab 5 – Keputusan yang Berat

Beberapa hari setelah percakapan dengan Bima, hidup Raka terasa semakin terhimpit. Setiap kali ia melangkah ke masjid, hatinya lapang, tapi setiap kali ia kembali ke kolong jembatan bersama gengnya, hatinya sesak.

Suatu malam, geng mereka merencanakan sesuatu.
“Rak, malam ini kita gasak minimarket di ujung jalan. Nggak besar sih, tapi lumayan buat seminggu,” ujar Bima dengan nada serius.

Raka terkejut.
“Bim, itu maling. Kalau ketahuan bisa masuk penjara.”

Bima menatapnya tajam.
“Lu pikir kita bisa hidup cuma dari ngamen recehan? Dunia nggak peduli sama kita, Rak. Kita harus keras lawan keras.”

Raka terdiam. Dalam hatinya, perang besar sedang berkecamuk. Ingatan tentang sujud pertamanya di masjid muncul, juga senyum teduh ustadz tua yang berkata: “Allah tidak melihat masa lalumu, Nak. Dia melihat langkahmu sekarang.”

“Gue nggak ikut,” suara Raka bergetar, tapi tegas.

Semua anak jalanan di situ menoleh kaget. Bima berdiri, wajahnya marah.
“Lu serius, Rak? Jadi apa lu sekarang? Ustadz?!”

“Gue cuma nggak mau makin jauh dari jalan yang salah,” jawab Raka lirih, tapi mantap.

Suasana tegang. Bima mengepalkan tangan, hampir saja memukul, tapi akhirnya hanya mendengus keras.
“Kalau gitu, pergi! Lu bukan bagian dari kita lagi.”

Raka menelan ludah. Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk dada. Mereka selama ini keluarganya, sahabatnya, rumahnya. Tapi malam itu, ia harus kehilangan semuanya demi sesuatu yang lebih besar.

Dengan langkah gontai, ia membawa gitar tuanya, meninggalkan kolong jembatan. Hujan mulai turun lagi, menambah perih di hatinya. Tapi entah kenapa, di balik semua itu, ada cahaya kecil yang membuatnya kuat.

Ia tahu, malam itu adalah awal dari sebuah keputusan besar: meninggalkan jalanan untuk mencari jalan Allah.



Bab 6 – Jalan Sunyi

Malam itu, Raka berjalan tanpa tujuan. Hujan deras membasahi tubuhnya, tapi ia terus melangkah dengan gitar tua di punggung. Kolong jembatan—tempat yang dulu ia sebut rumah—kini tinggal kenangan. Ia telah meninggalkannya.

Perutnya kosong, langkahnya goyah. Ia duduk di pinggir jalan, menggigil sambil menatap kendaraan yang melintas. Tidak ada lagi Bima, tidak ada lagi geng jalanan yang menyambutnya. Ia benar-benar sendiri.

Sampai akhirnya, ia menemukan masjid yang pintunya terbuka. Dengan ragu ia masuk, mencari tempat di sudut untuk berbaring. Lantai masjid dingin, tapi entah mengapa, hatinya merasa aman.

Keesokan paginya, seorang marbot masjid melihatnya. Lelaki sederhana itu menatap Raka dengan penuh iba.
“Kamu tidur di sini, Nak?” tanyanya lembut.

Raka menunduk. “Iya, Pak. Saya… nggak punya tempat lain.”

Marbot itu tersenyum.
“Kalau begitu, tinggal saja di sini sementara. Bantu-bantu bersih-bersih masjid, insyaAllah kamu nggak akan kelaparan.”

Raka terharu. Ia mengangguk, lalu mulai hari itu menjadi pembantu kecil masjid—menyapu lantai, mengisi galon air, dan sesekali ikut jamaah shalat.

Namun jalan hijrah tidak mudah. Beberapa kali ia tergoda untuk kembali ke jalanan, terutama saat lapar dan kesepian. Tapi setiap kali melihat jamaah yang khusyuk shalat, hatinya berbisik:
“Bertahanlah. Allah pasti menolongmu.”

Dan benar. Pertolongan Allah datang dengan cara yang tak ia sangka.

Suatu sore, setelah adzan Ashar, ustadz tua yang dulu memberinya teh hangat datang menghampiri. Ia menepuk bahu Raka.
“Alhamdulillah, Nak… Allah sudah memilihmu untuk tinggal di rumah-Nya. Kau tahu? Tidak semua orang mendapat kesempatan ini.”

Raka menahan air mata. Ia sujud lama sekali malam itu, berbisik lirih dalam doanya:
“Ya Allah… jangan lepaskan aku lagi dari jalan ini. Meski sulit, aku rela. Asal Engkau tetap bersamaku.”

Malam itu, ia merasa damai untuk pertama kalinya sejak meninggalkan geng jalanan.



Bab 7 – Membuka Mushaf

Hari-hari Raka kini berbeda. Ia bangun pagi bersama suara adzan Subuh, menyapu halaman masjid, lalu duduk di serambi sambil menatap jamaah yang datang dan pergi.

Namun ada satu hal yang selalu membuatnya minder: mushaf Al-Qur’an. Setiap kali jamaah membacanya dengan tartil, Raka hanya bisa menunduk. Huruf-huruf hijaiyah terasa asing baginya. Ia malu karena sudah berumur belasan tahun, tapi belum bisa membaca Kitab Suci.

Suatu sore, ustadz tua yang selalu membimbingnya datang membawa sebuah mushaf kecil. Beliau meletakkannya di pangkuan Raka.
“Raka, ini hadiah untukmu. Mulai hari ini, belajarlah membaca Al-Qur’an. Jangan malu. Semua orang pernah belajar dari nol.”

Raka memegang mushaf itu dengan tangan bergetar. “Tapi, Pak… saya nggak bisa. Huruf-hurufnya aja saya belum kenal semua.”

Ustadz tersenyum.
“Bismillah. Langkah kecilmu hari ini bisa jadi awal cahaya besar di masa depan.”

Hari-hari berikutnya, Raka belajar mengeja huruf hijaiyah.
“Alif… ba… ta…” suaranya terbata-bata, tapi penuh semangat.

Beberapa jamaah masjid yang lebih muda kadang tersenyum melihatnya, bahkan ada yang mengejek dengan nada bercanda.
“Mas, kok baru belajar baca Qur’an sekarang?”

Awalnya hati Raka sakit mendengar itu. Tapi setiap kali ia hampir menyerah, ia teringat malam hujan pertama kali ia diberi teh hangat di masjid ini. Kalau saat itu Allah bisa menguatkanku, kenapa sekarang aku harus berhenti?

Malam demi malam ia lalui dengan suara terbata-bata membaca ayat pertama:
“Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm…”

Air matanya menetes. Lidahnya berat, tapi hatinya terasa ringan.

Ia sadar, hidayah bukan sekadar soal datang ke masjid atau menjauhi jalanan, tapi juga tentang berani membuka lembaran baru—secara harfiah dan maknawi—dengan membuka mushaf dan belajar membaca firman Allah.

Malam itu, untuk pertama kalinya, Raka merasa benar-benar sedang menuju arah yang jelas.



Bab 8 – Godaan Masa Lalu

Sore itu, setelah membersihkan halaman masjid, Raka duduk di serambi sambil mengulang-ulang huruf hijaiyah dari mushaf kecilnya. Suaranya lirih, penuh perjuangan.

Tiba-tiba, suara motor berderu berhenti di depan masjid. Dari atas motor, turunlah sosok yang begitu dikenalnya: Bima. Wajahnya keras, matanya tajam, jaket hitamnya masih sama seperti dulu.

“Rak…” panggil Bima dengan nada berat.

Raka terkejut. Hatinya berdebar. Sudah lama ia tak bertemu sahabat lamanya itu.
“Bim… kenapa lo di sini?”

Bima mendekat, tatapannya menusuk.
“Gue denger lo sekarang tinggal di masjid. Serius lo ninggalin kita? Ninggalin jalanan?”

Raka menunduk. “Bim, gue nggak ninggalin kalian. Gue cuma… nemuin jalan yang lebih baik. Gue capek hidup kayak dulu.”

Bima mendengus, lalu mengeluarkan sebatang rokok.
“Rak, jangan bodoh. Hidup ini keras. Masjid nggak bakal bikin lo kenyang. Lihat diri lo sekarang—miskin, nggak punya apa-apa. Mending balik sama gue. Ada ‘proyek’ gede minggu depan, bisa bikin kita tajir.”

Raka terdiam. Kata-kata itu menggoda. Perutnya sering kosong, bajunya lusuh, dan masa depannya terasa kabur. Sekilas, ajakan Bima terdengar seperti jalan keluar.

Namun, ia teringat kata ustadz tua: “Allah tidak melihat masa lalumu, Nak. Dia melihat langkahmu sekarang.”

Dengan suara lirih tapi tegas, Raka menjawab:
“Bim, gue lebih baik miskin tapi tenang… daripada kaya tapi terus dihantui dosa.”

Bima terdiam. Wajahnya keras, tapi matanya bergetar. Ia mendekat, berbisik tajam:
“Kalau gitu, jangan pernah nyesel, Rak. Dunia ini nggak bakal kasihan sama lo.”

Ia berbalik, menyalakan motor, lalu melaju pergi meninggalkan Raka yang masih berdiri dengan dada bergetar.

Air mata menetes di pipi Raka. Berat rasanya menolak sahabat yang dulu dianggap keluarga. Tapi jauh di dalam hatinya, ia tahu: ia baru saja memenangkan salah satu pertempuran terbesar dalam hidupnya.

Malam itu, Raka bersujud lama sekali.
“Ya Allah… jangan biarkan aku kembali ke jalan yang gelap. Meski berat, tuntunlah aku tetap di jalan-Mu.”

Dan dalam sujud itu, ia merasakan kekuatan baru.


Bab 9 – Pintu Rezeki

Hari-hari Raka semakin dipenuhi dengan kegiatan masjid. Ia membantu marbot membersihkan karpet, mengisi air wudhu, hingga menjaga sandal jamaah. Meski sederhana, ia merasa hidupnya lebih berarti dibanding masa lalu di jalanan.

Namun, rasa lapar kadang masih menyiksa. Suatu sore, saat ia duduk di serambi dengan wajah pucat, seorang jamaah tua menghampirinya.
“Anak muda, kau sudah sering aku lihat di masjid ini. Kau tinggal di sini?”

Raka tersenyum kikuk. “Iya, Pak. Saya bantu-bantu masjid biar ada tempat berteduh.”

Lelaki tua itu menatap penuh iba. “Kau rajin. Kalau mau, ikut aku besok ke toko. Aku butuh orang buat bantu angkat-angkat barang. Lumayan, bisa buat makan.”

Mata Raka berbinar. “Bener, Pak? Terima kasih banyak…”

Keesokan harinya, Raka ikut bekerja di toko kecil milik jamaah itu. Pekerjaan sederhana, tapi membuatnya bisa membeli makanan halal dengan uang sendiri. Lebih dari itu, ia merasa harga dirinya kembali—tidak lagi mengemis belas kasihan, apalagi mencuri.

Sejak itu, pintu rezeki terbuka sedikit demi sedikit. Ada saja jamaah yang memberinya pakaian layak, ada yang mengajarinya iqra’, bahkan ada yang memberinya tempat tinggal sementara di rumah kontrakan sederhana.

Malam itu, Raka menatap langit dengan hati penuh syukur.
“Ya Allah, ternyata Engkau selalu punya jalan. Aku dulu kira hidup ini cuma tentang bertahan… ternyata dengan-Mu, hidup jadi tentang harapan.”

Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak sendiri. Masjid telah memberinya keluarga baru. Dan Allah telah menunjukkan janji-Nya: “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3).

Raka menutup mata, membiarkan air matanya jatuh. Dalam hati, ia berjanji: ia tidak akan pernah kembali ke jalanan.



Bab 10 – Cahaya untuk Orang Lain

Hari-hari Raka kini dipenuhi dengan hal-hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Setiap pagi ia bekerja di toko kecil, sore membantu marbot masjid, dan malam belajar mengaji dengan ustadz tua.

Bacaan Qur’annya masih terbata-bata, tapi semangatnya membuat semua orang terharu. Ia bahkan sering berlatih sendirian, membaca berulang-ulang meski suaranya sumbang.

Suatu sore, saat ia sedang duduk di serambi masjid, beberapa anak kecil jalanan menghampirinya. Wajah mereka kotor, baju compang-camping—persis dirinya dulu.
“Bang, beneran lo dulu anak jalanan juga?” tanya salah satu dengan polos.

Raka tersenyum samar. “Iya, dulu gue kayak kalian. Tidur di kolong jembatan, makan seadanya, dan ngerasa nggak ada harapan.”

Anak-anak itu menatapnya dengan mata berbinar.
“Terus, kenapa lo bisa berubah, Bang?”

Raka menatap mushaf kecil di pangkuannya, lalu berkata lirih:
“Karena Allah sayang sama gue. Dia ngasih gue kesempatan buat balik. Masjid ini jadi rumah baru gue… dan Qur’an ini jadi cahaya yang nunjukin jalan.”

Anak-anak itu terdiam, lalu salah satu dari mereka berkata, “Bang, ajarin kita juga dong baca Qur’an.”

Raka tertegun. Dadanya hangat. Ia merasa inilah jawaban dari semua doanya selama ini. Meski dirinya masih belajar, ia bisa menjadi jalan bagi orang lain.

Malam itu, dengan mushaf lusuhnya, Raka mulai mengajari anak-anak jalanan membaca huruf hijaiyah. Suaranya bergetar, tapi penuh keyakinan. Setiap huruf yang keluar dari mulutnya seolah menjadi cahaya yang mengusir gelap masa lalunya.

Ustadz tua yang melihat dari jauh tersenyum haru.
“Alhamdulillah… benih itu sudah tumbuh. Raka bukan hanya diselamatkan, tapi kini menjadi penyelamat bagi yang lain.”

Dan di bawah cahaya lampu masjid yang temaram, lahirlah sebuah kisah baru: anak jalanan yang dulu tersesat, kini menjadi penerang bagi sesamanya.



Bab 11 – Pertemuan Dua Jalan

Suatu malam yang tenang, Raka sedang menutup pintu masjid setelah anak-anak jalanan yang ia ajari mengaji pulang. Tiba-tiba, dari kejauhan, ia melihat sosok yang tak asing. Jalannya gontai, wajahnya pucat, dan matanya sayu.

“Raka…” suara itu lirih.

Raka tertegun. “Bima?”

Ya, sahabat lamanya, rekan sehidup-semati di jalanan dulu. Tapi kini penampilannya lebih kacau daripada sebelumnya. Tubuhnya kurus, bibirnya pecah-pecah, dan tangannya gemetar.

“Aku… butuh bantuanmu,” kata Bima, hampir terjatuh.

Raka buru-buru menopangnya. “Astaghfirullah, kamu kenapa, Bim?”

Bima menunduk, air matanya jatuh. “Gue hancur, Rak… semua orang ninggalin gue. Gue nggak punya siapa-siapa lagi. Lo masih mau nerima gue?”

Hati Raka bergetar. Kenangan lama berputar—mabuk bersama, berkelahi di jalanan, mencuri demi bertahan hidup. Semua itu dilakukannya bersama Bima. Dan kini, sahabatnya datang dalam keadaan yang paling rapuh.

Raka menarik napas dalam. “Bim… Allah nggak pernah ninggalin kita. Gue dulu juga kayak lo. Tapi Allah kasih gue kesempatan. Sekarang giliran lo, kalau mau.”

Bima menatapnya dengan mata merah, penuh penyesalan. “Tapi gue udah terlalu kotor, Rak… lo udah jauh lebih baik. Gue nggak pantas.”

Raka menggenggam tangannya erat. “Jangan bilang gitu. Dulu gue juga berpikir gitu, sampai Allah buktiin kalau rahmat-Nya lebih besar dari semua dosa gue. Lo pantas, Bim. Kita semua pantas kalau mau balik.”

Malam itu, di serambi masjid, dua sahabat lama menangis bersama. Tangisan yang dulu selalu mereka tahan dengan gengsi, kini pecah dalam doa dan penyesalan.

Ustadz tua mendekat, meletakkan tangannya di pundak Bima. “Nak, pintu taubat selalu terbuka. Allah berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)

Bima menangis makin keras, seolah ayat itu menembus hatinya.

Dan malam itu menjadi awal baru. Dua anak jalanan, yang dulu sama-sama tenggelam dalam gelap, kini duduk bersisian dalam cahaya, siap menempuh jalan hijrah bersama.



Bab 12 – Langkah Pertama Bima

Hari-hari pertama bagi Bima terasa sangat berat. Hidupnya yang dulu bebas tanpa aturan kini berubah penuh batas. Tak ada lagi rokok, miras, atau malam-malam kelam bersama kawan jalanan. Semua itu diganti dengan shalat, dzikir, dan belajar membaca Al-Qur’an.

Sering kali ia merasa tersiksa.
“Rak… jujur gue nggak kuat. Rasanya pengen balik aja,” kata Bima suatu malam setelah shalat Isya berjamaah.

Raka menepuk bahunya. “Bim, gue dulu juga ngerasa gitu. Setiap mau ninggalin kebiasaan buruk, rasanya kayak nyabut duri yang udah lama nancep. Sakit banget. Tapi percayalah, setelah lo tahan, hati lo bakal tenang.”

Ustadz tua yang mendengar percakapan mereka menambahkan,
“Hijrah itu bukan soal langsung sempurna, Nak. Tapi soal istiqamah—melangkah pelan, asal jangan berhenti. Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus meskipun sedikit. (HR. Bukhari dan Muslim)

Bima terdiam. Kata-kata itu menancap di hatinya.

Malam itu, untuk pertama kalinya, ia memaksa dirinya bangun untuk shalat tahajud bersama Raka. Awalnya ia hanya ikut karena tidak enak hati. Tapi saat sujud, entah mengapa air matanya mengalir deras. Ia merasa begitu hina, tapi sekaligus lega.

“Ya Allah… kalau Engkau masih mau nerima gue, tolong kuatkan gue,” bisiknya dalam doa.

Hari-hari berikutnya, Bima mulai belajar mengaji. Bacaan huruf hijaiyahnya bahkan lebih parah daripada Raka dulu. Anak-anak kecil yang ikut belajar sering tertawa. Tapi Raka selalu menyemangati,
“Tenang Bim, lo nggak sendiri. Gue dulu juga diketawain. Yang penting jangan malu sama manusia, malu sama Allah kalau kita nyerah.”

Sedikit demi sedikit, cahaya itu mulai meresap ke dalam hati Bima. Ia masih sering jatuh, masih kadang terpancing untuk kembali ke jalan lama. Tapi kini ia punya tempat pulang, punya sahabat yang selalu mengingatkan, dan punya Allah yang tak pernah meninggalkannya.

Hijrah bukan akhir, melainkan awal perjuangan. Dan Bima baru saja memulainya.


Bab 13 – Godaan yang Kembali

Suatu sore, Bima sedang duduk di serambi masjid setelah belajar iqra bersama anak-anak. Tiba-tiba, suara motor bising berhenti di depan. Tiga orang pemuda turun, wajah mereka keras, penuh tato, persis teman-teman lama Bima di jalanan.

“Bima! Akhirnya ketemu juga, bro!” teriak salah satu sambil menyalaminya dengan gaya lama.

Bima kaku. Tangannya gemetar, wajahnya pucat.
“A-apa kabar, Bang?”

Mereka tertawa kasar. “Kabar? Sama aja, hidup bebas! Eh, kita denger lo sekarang ngendon di masjid? Masa iya lo jadi anak alim? Hahaha…”

Bima menunduk, malu sekaligus bingung.
“Gue… gue lagi coba berubah, Bang.”

Salah satu dari mereka menepuk pundaknya keras. “Ah, udahlah, Bi. Lo kan bukan tipe orang alim. Malam ini kita ada pesta kecil. Musik, minum, semua ada. Ayo balik! Kita butuh lo, bro.”

Hati Bima berguncang hebat. Ingatan masa lalu berputar—tawa liar, bebas tanpa aturan, meski penuh dosa. Ada rasa rindu yang muncul, tapi juga rasa takut.

Raka yang kebetulan baru keluar dari masjid melihat mereka. Ia segera mendekat.
“Assalamualaikum,” ucapnya tenang.

Mereka menjawab malas, lalu melirik sinis. “Lo siapa?”

“Aku Raka, sahabat Bima. Kalau kalian sayang sama dia, jangan ajak kembali ke jalan yang bikin hidup hancur,” kata Raka dengan suara mantap.

Pemuda bertato itu mendengus. “Sok suci lo! Bima ini keluarga kita. Jangan lo cuci otaknya.”

Bima menatap kedua pihak itu dengan mata berkaca-kaca. Ia merasa seperti ditarik ke dua arah: masa lalu yang menggoda dan masa depan yang penuh harapan.

Raka menoleh ke sahabatnya. “Bim, lo yang harus pilih. Mau ikut mereka, atau tetap di jalan yang lo perjuangkan sekarang.”

Hening. Jantung Bima berdegup kencang.

Akhirnya, dengan suara bergetar, ia berkata:
“Maaf, Bang… gue udah milih jalan gue. Gue nggak mau balik ke masa lalu.”

Para pemuda itu terdiam sejenak, lalu salah satu dari mereka mengumpat dan menyalakan motor.
“Sok alim lo sekarang. Ingat, Bi, dunia kita nggak pernah bisa lo tinggalin!”

Mereka pergi dengan suara knalpot memekakkan telinga.

Bima jatuh terduduk, air matanya tumpah. “Rak… gue takut, mereka bener. Gue takut gue nggak kuat.”

Raka meraih pundaknya. “Lo kuat, Bim. Karena lo nggak sendiri. Gue ada di sini, dan yang lebih penting, Allah ada bersama lo. Ingat janji-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا

Sesungguhnya orang-orang yang berkata: “Tuhan kami adalah Allah”, lalu mereka istiqamah, maka malaikat turun kepada mereka (seraya berkata): “Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih…” (QS. Fussilat: 30)

Bima menggenggam mushaf kecilnya erat. Malam itu ia sadar, hijrah bukan sekadar meninggalkan masa lalu, tapi juga berani menghadapi godaan yang terus datang.



Bab 14 – Buah dari Kesabaran

Beberapa bulan telah berlalu sejak Bima memutuskan hijrah bersama Raka. Perlahan tapi pasti, kehidupan mereka berubah. Anak-anak jalanan yang dulu liar kini lebih sering terlihat di masjid, belajar iqra dengan suara terbata-bata namun penuh semangat.

Raka dan Bima kini bukan hanya murid, tapi juga menjadi pembimbing kecil bagi generasi baru. Mereka mengajari bukan dengan kata-kata indah, tapi dengan bukti nyata: bagaimana dua anak jalanan yang dulu dikenal sebagai pembuat onar, kini berdiri di shaf depan, memimpin adzan, dan menjaga masjid.

Suatu malam, ustadz tua itu memanggil keduanya.
“Raka, Bima… masyarakat sudah melihat perubahan kalian. Mereka ingin kalian ikut membimbing pemuda-pemuda lain yang masih terombang-ambing. Apa kalian siap?”

Raka terdiam, menatap Bima. Bima menelan ludah, lalu tersenyum samar.
“Ustadz… kita masih belajar, kita masih banyak dosa.”

Ustadz tua itu menepuk bahu mereka lembut.
“Justru itu. Orang akan percaya pada kalian, karena mereka tahu kalian pernah jatuh, dan kini bangkit. Cahaya itu lebih terasa ketika datang dari gelap.”

Kata-kata itu membuat dada mereka bergetar.

Hari-hari berikutnya, mereka mulai diundang ke majelis kecil, diminta berbagi pengalaman. Awalnya mereka gugup, tapi setiap kali bercerita, mata para pemuda yang mendengarkan berbinar.

“Kalau Raka dan Bima bisa berubah, kenapa kita nggak bisa?” begitu bisik sebagian anak muda.

Dan begitulah, cahaya itu menyebar. Dari satu anak jalanan yang tersesat, Allah mengubahnya menjadi jalan hidayah bagi banyak orang.

Malam itu, setelah shalat Isya, Raka dan Bima duduk di serambi masjid. Langit penuh bintang, angin berhembus lembut.
“Rak…” kata Bima pelan, “gue nggak pernah nyangka, hidup kita bakal sampai sini.”

Raka tersenyum. “Iya, Bim. Allah nunjukin kalau nggak ada yang mustahil. Dulu kita cari kebebasan di jalanan, tapi ternyata kebebasan yang sejati ada di dalam sujud.”

Mereka berdua menatap langit. Malam terasa begitu tenang, seakan seluruh perjalanan pahit mereka hanya sebuah prolog menuju cahaya yang lebih besar.


Bab 15 – Jalan Pulang

Tahun berganti. Masjid kecil yang dulu sepi kini ramai dengan anak-anak muda yang belajar. Dari yang hanya satu-dua, kini puluhan orang duduk bersila, mengaji bersama.

Di barisan depan, Raka dan Bima duduk berdampingan. Wajah mereka lebih tenang, sorot mata lebih lembut, meski bekas luka masa lalu masih ada. Luka itu kini berubah menjadi tanda perjuangan, bukan aib.

Suatu sore, seorang wartawan muda datang. Ia ingin menulis kisah mereka.
“Bang, apa yang bikin kalian bisa berubah sejauh ini?” tanyanya.

Raka menunduk, tersenyum tipis.
“Kita nggak pernah bisa berubah kalau bukan karena Allah. Dulu, gue pikir hidup di jalanan itu kebebasan. Tapi ternyata, kebebasan sejati ada saat lo tunduk sama aturan Allah. Itu jalan pulang kita.”

Bima menambahkan dengan suara bergetar,
“Kita ini bukti, nggak ada manusia yang terlalu kotor buat diterima Allah. Selama masih ada nafas, masih ada kesempatan buat balik.”

Air mata wartawan itu jatuh. Ia tak menyangka dua anak jalanan yang dulu dicap sampah masyarakat, kini mampu menjadi cahaya bagi orang lain.

Malam itu, setelah semua jamaah pulang, Raka dan Bima duduk di serambi masjid, menatap bulan purnama.

“Rak…” ujar Bima pelan, “lo inget nggak, dulu kita sering bilang hidup kita nggak ada artinya?”

Raka tersenyum. “Iya, Bim. Tapi sekarang gue sadar, nggak ada yang sia-sia. Bahkan masa lalu kita yang gelap pun, Allah jadikan pelajaran buat orang lain.”

Keduanya terdiam, lalu menengadahkan tangan ke langit. Dengan hati yang penuh syukur, mereka berdoa:
“Ya Allah, tetapkan hati kami di jalan-Mu. Jangan Engkau palingkan kami setelah Engkau beri hidayah.”

Dan malam itu menjadi saksi: dua anak jalanan telah menemukan jalan pulang. Jalan yang bukan sekadar meninggalkan gelap, tapi menjemput cahaya.


TAMAT


✨ Tamat ✨

Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi siapa pun yang mencari jalan pulang menuju Allah.


📌 Dipublikasikan oleh arrayyannews.blogspot.co.id


Tidak ada komentar:

AR-RAYYAN-MEDIA

RKI Tartil Al-Qur’an Balapulang Wetan RKI Tartil Al-Qur’an Balapulang Wetan by arrayyannews RKI ...