📚 Mengenal Ilmu Fiqih & Empat Madzhab
Fiqih adalah ilmu yang membahas hukum-hukum syariat Islam yang bersifat amaliah (praktis), diambil dari dalil-dalil seperti Al-Qur’an, Hadits, Ijma’, dan Qiyas. Dalam sejarah Islam, berkembang empat madzhab besar Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali.
📊 Tabel Perbandingan Empat Madzhab
| Madzhab | Pendiri & Tahun | Ciri Khas | Metode Ijtihad | Wilayah Pengaruh |
|---|---|---|---|---|
| Hanafi | Imam Abu Hanifah (80–150 H, Kufah) | Rasional, fleksibel, banyak gunakan logika | Qur’an → Sunnah → Qiyas → Istihsan → Urf (adat) | India, Pakistan, Turki, Asia Tengah |
| Maliki | Imam Malik bin Anas (93–179 H, Madinah) | Pegang tradisi penduduk Madinah, perhatikan kemaslahatan | Qur’an → Sunnah → Amal Madinah → Maslahah Mursalah → Sadd Dzari’ah | Afrika Utara, Maroko, Tunisia, Sudan |
| Syafi’i | Imam Asy-Syafi’i (150–204 H, Gaza–Mesir) | Sistematis, ketat dalam dalil, susun ushul fiqih | Qur’an → Sunnah → Ijma’ → Qiyas, menolak istihsan | Mesir, Yaman, Indonesia, Malaysia, Brunei |
| Hanbali | Imam Ahmad bin Hanbal (164–241 H, Baghdad) | Tekstual, fokus pada nash, kuat dalam hadits | Qur’an → Sunnah → Fatwa Sahabat → Hadits Dha’if → Qiyas | Saudi Arabia, Teluk Arab |
🕌 Contoh Perbedaan Hukum Praktis
| Masalah Fiqih | Hanafi | Maliki | Syafi’i | Hanbali |
|---|---|---|---|---|
| Menyentuh lawan jenis tanpa syahwat | Tidak batal wudhu, kecuali keluar mani | Tidak batal | Batal meski tanpa syahwat | Tidak batal, kecuali dengan syahwat |
| Qunut Subuh | Tidak disyariatkan | Tidak disyariatkan | Sunnah muakkadah | Tidak disyariatkan |
| Jumlah minimal zakat fitrah | Setengah sha’ (≈1,75 kg) | Satu sha’ (≈2,5 kg) | Satu sha’ (≈2,5 kg) | Satu sha’ (≈2,5 kg) |
| Shalat Tarawih | 20 rakaat | 36 rakaat (di Madinah) | 20 rakaat | 11 rakaat (boleh lebih) |
📖 Dalil Perbedaan
1. Menyentuh lawan jenis tanpa syahwat
• Dalil Syafi’i:
"أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا"
(QS. An-Nisa: 43) → dipahami bahwa menyentuh wanita membatalkan wudhu.
• Dalil Hanafi, Maliki, Hanbali: menafsirkan "lamastum" sebagai jima’, bukan sekadar sentuhan.
• Dalil Syafi’i:
"أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا"
(QS. An-Nisa: 43) → dipahami bahwa menyentuh wanita membatalkan wudhu.
• Dalil Hanafi, Maliki, Hanbali: menafsirkan "lamastum" sebagai jima’, bukan sekadar sentuhan.
2. Qunut Subuh
• Dalil Syafi’i: Hadits dari Anas bin Malik r.a.: "Rasulullah ﷺ senantiasa berqunut pada shalat Subuh hingga beliau wafat." (HR. Baihaqi).
• Dalil Hanafi, Maliki, Hanbali: riwayat lain dari Anas bahwa Nabi ﷺ hanya qunut pada saat ada musibah (qunut nazilah).
• Dalil Syafi’i: Hadits dari Anas bin Malik r.a.: "Rasulullah ﷺ senantiasa berqunut pada shalat Subuh hingga beliau wafat." (HR. Baihaqi).
• Dalil Hanafi, Maliki, Hanbali: riwayat lain dari Anas bahwa Nabi ﷺ hanya qunut pada saat ada musibah (qunut nazilah).
3. Zakat Fitrah
• Dalil mayoritas madzhab (Maliki, Syafi’i, Hanbali): Hadits Ibnu Umar r.a.: "Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum." (HR. Bukhari-Muslim).
• Hanafi: menggunakan qiyas, karena makanan pokok berbeda-beda, sehingga cukup setengah sha’ gandum yang lebih berat.
• Dalil mayoritas madzhab (Maliki, Syafi’i, Hanbali): Hadits Ibnu Umar r.a.: "Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum." (HR. Bukhari-Muslim).
• Hanafi: menggunakan qiyas, karena makanan pokok berbeda-beda, sehingga cukup setengah sha’ gandum yang lebih berat.
4. Shalat Tarawih
• Dalil 20 rakaat (Hanafi & Syafi’i): Riwayat dari Umar bin Khattab r.a. yang mengumpulkan jamaah tarawih 20 rakaat (HR. Baihaqi).
• Dalil 36 rakaat (Maliki): praktik penduduk Madinah untuk menambah rakaat sebagai bentuk semangat ibadah.
• Dalil 11 rakaat (Hanbali): Hadits dari Aisyah r.a.: "Rasulullah ﷺ tidak pernah shalat malam lebih dari sebelas rakaat." (HR. Bukhari-Muslim).
• Dalil 20 rakaat (Hanafi & Syafi’i): Riwayat dari Umar bin Khattab r.a. yang mengumpulkan jamaah tarawih 20 rakaat (HR. Baihaqi).
• Dalil 36 rakaat (Maliki): praktik penduduk Madinah untuk menambah rakaat sebagai bentuk semangat ibadah.
• Dalil 11 rakaat (Hanbali): Hadits dari Aisyah r.a.: "Rasulullah ﷺ tidak pernah shalat malam lebih dari sebelas rakaat." (HR. Bukhari-Muslim).
Kesimpulan: Perbedaan antar madzhab terjadi karena perbedaan metode ijtihad dan pemahaman dalil,
bukan pertentangan pokok agama. Semua madzhab benar dan diakui dalam Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar