Hijrah adalah Perjalanan Melawan Diri Sendiri
Sebuah kisah tentang pergulatan batin, penyerahan, dan transformasi menuju cahaya.
Angin sore menyapu lembut wajah Fajar saat ia duduk di beranda rumah. Di tangannya, sebuah mushaf Al-Qur’an terbuka. Namun pikirannya melayang jauh, bukan pada ayat yang dibaca, melainkan pada kegelisahan yang selama ini ia simpan rapat-rapat.
“Kenapa aku selalu kalah dengan diriku sendiri?” gumamnya lirih.
Ia teringat malam-malam yang ia habiskan dengan sia-sia, waktu subuh yang sering ia lewatkan, serta doa-doa yang tertahan karena malas dan lalai. Hatinya tahu bahwa kebaikan selalu memanggil, tapi langkahnya kerap terikat oleh nafsu dan kebiasaan buruk.
Suatu hari, seorang sahabat lama, Hasan, menemuinya. Hasan kini tampak berbeda—wajahnya teduh, lisannya ringan mengingatkan pada kebaikan.
“Jarang kelihatan di masjid, Jar,” sapa Hasan sambil tersenyum.
Fajar menunduk. “Aku malu, San. Aku sering kalah dengan diriku sendiri.”
Hasan menepuk bahunya. “Itulah hijrah sebenarnya, Jar. Bukan soal berpindah tempat, bukan juga sekadar mengganti penampilan. Hijrah itu perjalanan melawan dirimu sendiri. Kalau kamu masih jatuh, itu wajar. Yang penting, jangan berhenti bangkit.”
Kata-kata itu menancap dalam hati Fajar. Malam itu, ia mencoba bangun untuk shalat tahajud. Berat, matanya ingin terus terpejam, tapi ia paksa tubuhnya berdiri. Hanya dua rakaat yang ia sanggup lakukan. Tapi di akhir doa, ia merasakan sesuatu yang berbeda—air mata jatuh tanpa bisa ia tahan.
Hari-hari berikutnya, perjuangan itu berlanjut. Kadang ia berhasil, kadang ia gagal. Namun setiap kali jatuh, ia ingat pesan Hasan: hijrah itu perjalanan, bukan tujuan akhir.
Perlahan, Fajar mulai merasakan ketenangan yang dulu tak pernah ia miliki. Ia belajar memaafkan diri sendiri, sekaligus terus mendorong dirinya untuk berbuat lebih baik.
Hijrah memang bukan perkara mudah. Ia bukan jalan lurus tanpa rintangan. Tapi Fajar kini percaya: selama ia berusaha melawan dirinya sendiri, Allah selalu menuntun langkahnya.
Dan di beranda rumah sore itu, ia kembali membuka mushaf. Kali ini, bukan sekadar menatap huruf-hurufnya, tapi benar-benar membaca dengan hati yang lebih hidup.
🌙 Pelajaran: Hijrah bukan sekadar perubahan lahiriah, melainkan pergulatan batin yang terus berlangsung. Menang melawan diri sendiri adalah kemenangan sejati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar