Sabtu, 27 September 2025

Hijrahku Dimulai di Sini — Cerpen Islami

Hijrahku Dimulai di Sini

Cerpen Islami tentang perjalanan hijrah seorang Hadi dan sahabatnya Riyanto dalam cahaya Al-Qur’an dan Sunnah.

Penulis: arrayyannews

Di sebuah musholla kecil di kampung, Hadi menundukkan kepala. Ia baru saja meninggalkan lingkaran pergaulan lama yang penuh dengan senda gurau kosong dan kebiasaan yang menjauhkan dari Allah. Di sisinya, ada Riyanto, sahabat yang lebih dulu menemukan jalan kembali.

“Anto,” kata Hadi lirih, “aku takut. Takut kembali ke masa lalu, takut tidak konsisten.”

Riyanto menepuk pundaknya. “Hadi, hijrah memang bukan perkara mudah. Allah ﷻ sudah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an:”

﴿ وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ ﴾
(QS. Al-‘Ankabut: 69)
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”

Hadi meneteskan air mata. Ia sadar, perjuangan melawan diri sendiri adalah bagian dari jihad terbesar.

Beberapa hari kemudian, Hadi diuji. Teman-teman lamanya menggoda. “Hadi, jangan sok alim! Ayolah ikut nongkrong lagi, jangan kaku begitu.” Hadi menunduk. Hatinya goyah, tapi ia mengingat nasihat Riyanto dan ayat yang baru saja didengarnya.

Ia lalu teringat sabda Rasulullah ﷺ:

« اَلْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ »
(HR. Bukhari dan Muslim)
“Seorang muhajir (yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah.”

Kata-kata itu menjadi benteng. Hadi menolak dengan lembut, “Maaf, aku sedang berusaha memperbaiki diri.” Ia tahu keputusannya akan membawa jarak, tapi justru jarak itulah yang menuntun pada kedekatan dengan Allah.

Malam harinya, Hadi kembali ke musholla. Riyanto menyambutnya dengan senyum hangat. “Aku bangga padamu, Had. Ingat, hijrah bukan berarti kita sempurna. Hijrah berarti kita mau berubah, setapak demi setapak, dengan istiqamah.”

Mereka berdua duduk lama. Membaca Al-Qur’an bersama, berbincang tentang niat, dan saling mengingatkan. Dalam keheningan itu, Hadi merasakan cahaya kecil di hatinya, cahaya yang selama ini hilang.

“Hijrahku dimulai di sini,” bisiknya dalam hati. “Bukan akhir perjalanan, tapi awal menuju kehidupan yang diridhai-Nya.”

Terbitan: arrayyannews

arrayyannews
arrayyannews

Media dakwah & inspirasi Islami yang menyajikan kisah, renungan, dan nasihat hati untuk menemani perjalanan iman pembaca.

Baca Cerpen Islami Lainnya
Hijrahku Dimulai di Sini — Episode 2: Istiqamah dalam Ujian

Hijrahku Dimulai di Sini

Episode 2 — Istiqamah dalam Ujian: Hadi, Riyanto, dan langkah-langkah kecil yang menjaga iman.
Penulis: arrayyannews

Beberapa bulan setelah langkah pertamanya, Hadi merasakan bahwa hijrah tidak semudah yang dibayangkan. Di luar, dunia bekerja seperti biasanya: godaan, bahan bercanda, undangan nongkrong yang tampak tak berbahaya. Di dalam, ada suara halus yang menyuruhnya untuk kembali ke kebiasaan lama. Maka ujian pun datang, bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai rambu penjernih niat.

Pada suatu sore, sekelompok teman lama mendatanginya. Mereka menggoda, mengejek perubahan yang Hadi lakukan. "Kamu jadi alim? Jangan sok suci dong," sahut salah seorang. Kata-kata itu menusuk; rasa malu menghempas dada Hadi. Ia pulang dengan langkah tak tegap, dan hatinya bergetar.

Riyanto melihat perubahan raut di wajah sahabatnya. Di malam yang sama, saat duduk berdua di serambi musholla, Riyanto membuka pembicaraan lembut: "Had, ujian itu wajar. Nabi ﷺ mengingatkan bahwa tidak ada ujian tanpa hikmah. Ingatlah ayat yang membesarkan hati kita."

﴿ إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Rabb kami adalah Allah’ kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak (pula) bersedih hati.” (QS. Al-Ahqaf: 13)

Hadi mengangguk. Ayat itu menjadi penawar, mengingatkan bahwa istiqamah adalah janji yang harus dijaga—bukan satu kali langkah, melainkan pengulangan niat setiap hari. Namun istiqamah tidak berarti tanpa jatuh; manusia tetap bisa goyah. Yang membedakan adalah bagaimana bangkit kembali.

Keesokan hari, godaan datang lagi: hadiah merokok ditawarkan di depan toko, undangan minum yang dipuja-puji oleh para teman. Hati Hadi berdialog sendiri. Ia ingin menolak, namun malu, takut dicap sok. Di saat itulah Riyanto hadir, menepuk punggungnya dan berbisik, "Katakanlah apa yang kau yakini, bukan apa yang mereka harapkan."

Di majelis ilmu beberapa hari kemudian, murabi membacakan hadits tentang istiqamah:

قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
"Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah." (HR. Muslim — ringkasan ajakan untuk teguh dalam iman)

Menurut murabi, redaksi ini menyederhanakan pesan: beriman itu awal, tetapi istiqamahlah yang menjaga iman agar tidak luntur. Ia menambahkan bahwa langkah kecil yang konsisten lebih berharga daripada perubahan dramatis yang cepat pudar.

Hadi mengambil pelajaran itu. Ia mulai menata harinya: tidur lebih awal, mengurangi pergaulan yang tak manfaat, dan mengganti waktu kosong dengan membaca Al-Qur’an satu lembar setiap hari. Ia juga belajar mengucap doa pendek bila godaan datang: "Ya Allah, kuatkan aku."

Satu malam, ketika ejekan kembali berdentang di telinganya, Hadi tidak langsung marah atau kembali. Ia menarik napas, mengingat wajah ibunya, keluarga, dan wajah teman-teman yang kini mulai memperhatikannya dengan rasa hormat. Ia berkata lembut, "Maafkan jika saya berubah. Saya sedang mencoba menjadi lebih baik." Jawaban sederhana itu mematahkan ejekan—bukan karena orang lain menghentikan celaan mereka, tetapi karena Hadi sudah menemukan kekuatan dari dalam.

Riyanto menyaksikan semua itu dengan mata berkaca-kaca. "Kamu sudah berjalan jauh, Had. Ujian memang ada, tapi lihatlah bagaimana Allah menaruh cahaya di hati orang-orang yang berusaha."

"Istiqamah bukan soal tidak pernah jatuh, melainkan tentang selalu bangkit kembali dengan niat yang diperbarui."

Akhirnya, perubahan Hadi mulai berbuah. Seorang pemuda yang dulu tak peduli kini bertanya padanya tentang cara memulai shalat berjamaah. Seorang ibu di pasar memuji sopan santunnya. Hal-hal kecil itu menjadi saksi bahwa hijrah yang sejati membuka ruang berkah—bukan pamer, tetapi transformasi yang tampak dari sikap sederhana sehari-hari.

Di penghujung episode ini, Hadi dan Riyanto duduk memandangi langit senja. Mereka tahu perjalanan masih panjang, dengan banyak ujian dan godaan di depan. Namun ada keyakinan yang tebal dalam dada: hijrah dimulai di sini, dan istiqamahlah yang menjaga setiap langkah.

Semoga setiap langkah kecil kita diberkahi dan istiqamah dalam niat. Amin.

arrayyannews
arrayyannews

Media dakwah & inspirasi Islami — menyajikan kisah, renungan, dan nasihat hati untuk menemani perjalanan iman pembaca.

Penulis: arrayyannews
Baca Episode Lainnya

Tidak ada komentar:

AR-RAYYAN-MEDIA

RKI Tartil Al-Qur’an Balapulang Wetan RKI Tartil Al-Qur’an Balapulang Wetan by arrayyannews RKI ...