Dibina untuk Membina
Sore itu, di serambi musholla kecil di ujung kampung, sekelompok pemuda duduk melingkar. Di tengah mereka, duduk seorang ustadz muda bernama UM Hadi. Wajahnya tenang, suaranya lembut, namun penuh wibawa.
“Anak-anakku,” ujar UM Hadi, “kita ini bukan sekadar belajar untuk diri sendiri. Kita dibina agar suatu hari mampu membina orang lain. Itulah estafet dakwah.”
Di antara jamaah, ada seorang pemuda bernama Riyanto. Ia baru beberapa pekan bergabung dalam majelis itu. Awalnya, ia datang hanya karena ajakan teman, tapi perlahan ia merasa ada sesuatu yang menyejukkan setiap kali mendengar nasihat UM Hadi.
“Ustadz,” tanya Riyanto ragu, “saya ini orang biasa. Ilmu agama saya masih sedikit. Apa mungkin saya bisa membina orang lain?”
UM Hadi tersenyum. “Riyanto, jangan remehkan kebaikan sekecil apa pun. Rasulullah ﷺ bersabda:”
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً"Sampaikanlah dariku walau satu ayat."
(HR. Bukhari)
Kemudian UM Hadi menambahkan ayat Al-Qur’an:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah...”
(QS. Ali Imran: 110)
Riyanto terdiam. Hatinya bergetar. Ia mulai memahami bahwa dakwah bukan hanya tugas ustadz di mimbar, tapi amanah setiap muslim sesuai kemampuan.
UM Hadi melanjutkan dengan membacakan firman Allah:
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Ali Imran: 104)
Lalu ia mengutip hadits lain sebagai penguat:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ“Barangsiapa menunjuki kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”
(HR. Muslim)
Beberapa bulan berlalu. Riyanto yang dulunya pemalu kini mulai berani mengajak teman-teman sebaya untuk shalat berjamaah. Ia mengulang nasihat-nasihat UM Hadi dengan bahasa sederhana. Kadang terbata-bata, tapi selalu dengan hati yang tulus.
UM Hadi tersenyum bangga melihat perubahan itu. “Inilah maksud dibina untuk membina,” katanya dalam hati. “Satu hati yang tersentuh, bisa menyentuh hati-hati lain.”
Dan benar, dari lingkaran kecil di musholla kampung itu, cahaya dakwah perlahan menyebar. Bukan dengan teriakan keras, tapi melalui keteladanan dan kesabaran.
Pesan Dakwah
Kita dibina bukan sekadar untuk diri sendiri, tapi untuk menjadi jalan hidayah bagi orang lain. Setiap orang bisa berdakwah sesuai kadar ilmunya, dengan niat ikhlas dan akhlak yang mulia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar