Sabtu, 27 September 2025

Setiap Kamis, Liqo Tholabul Ilmi dan Seorang Murabi — Cerpen

Setiap Kamis, Aku Menemukan Diriku

Cerpen singkat tentang liqo tholabul ilmi, seorang murabi, dan perjalanan hati yang menemukan arah kembali.

Penulis: arrayyannews

Setiap Kamis selepas ashar, halaman kecil masjid di dekat pasar selalu ramai oleh langkah-langkah yang tenang. Mereka bukan pebisnis, bukan pula aktivis; mereka adalah pencari ilmu—para pemuda dan pemudi yang merindukan kata-kata yang menuntun. Di antara mereka berdiri seorang murabi bernama Ustadz Karim, yang suaranya lembut namun tegas seperti alunan ayat yang familiar.

Ritual liqo tholabul ilmi itu sederhana: duduk melingkar, membaca sebuah kitab kecil tentang dasar-dasar akhlak dan adab, kemudian mendengarkan penjelasan singkat dari Ustadz Karim. Yang membuat liqo itu istimewa bukan hanya ilmu yang diajarkan, melainkan cara murabi itu menanamkan racikan hati—cara ia menyambungkan teks dengan persoalan hidup sehari-hari.

Mira, yang baru beberapa bulan ikut, duduk di barisan belakang. Ia datang bukan karena ingin pamer ilmu, melainkan karena ada resah yang terus menggerogoti: perasaan tak cukup baik, godaan pola hidup yang membuatnya menjauh, dan rasa hampa yang tak mudah diucap. Di liqo itu Mira menemukan ruang. Ia tidak harus menjadi yang paling fasih. Ia cukup menjadi yang hadir.

"Ilmu tanpa adab seperti pohon tanpa akar—mungkin tampak rindang, tetapi mudah tumbang ketika badai datang." — Ustadz Karim

Pada suatu pertemuan, Ustadz Karim membacakan firman Allah:

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujādilah: 11)

Lalu ia menatap ke arah Mira dan berkata, "Yang penting bukan hanya apa yang kau pelajari, melainkan bagaimana ilmu itu mengubah perlakuanmu terhadap diri sendiri dan orang lain." Kata-kata itu menusuk—bukan karena menghakimi, tetapi karena seperti cermin yang menampakkan bayang yang selama ini dihindari Mira.

Setelah liqo, beberapa dari mereka tetap tinggal: berdiskusi ringan, bertukar pengalaman, atau sekadar duduk merenggangkan tubuh. Mira sering menghabiskan waktu paling lama. Ia mencatat hal-hal kecil yang diucapkan murabi—kata-kata tentang sabar, tentang memaafkan, tentang memperbaiki niat. Catatan itu bukan semata hafalan; ia seperti doa tertulis yang perlahan menata ulang bahasa batinnya.

Peran murabi di situ tidak selalu menggurui. Ustadz Karim kerap memulai dengan cerita sederhana: kegagalan sendiri, tawa bersama keluarga, atau pengalaman menolong orang satu kampung. Dari cerita-cerita itu, ilmu berubah menjadi peta kecil—petunjuk harian yang bisa dipraktekkan bukan hanya di majlis, tetapi ketika menjemput anak di pasar atau ketika menahan diri dari berkata sinis kepada rekan kerja.

Suatu Kamis, Mira mendapati dirinya berdebat mulut dengan seorang tetangga yang salah paham mengenai urusan pekerjaan. Ia pulang dengan hati panas. Malamnya, ketika ia menyiapkan kalau-kalau akan datang lagi liqo, rasa malu menyusup. Ia menulis di catatannya: "Belajar sabar hari ini gagal." Ketika tiba Kamis, ia membuka catatan itu di depan Ustadz Karim. Sang murabi hanya tersenyum, kemudian berkata, "Bagus. Kau melihatnya. Langkah berikutnya adalah meminta maaf dan memperbaiki. Itu hijrah yang nyata."

Kata-kata itu mengajarkan Mira bahwa liqo bukan ruang untuk menjadi sempurna, melainkan sekolah ketulusan. Murabi bukan hakim; ia adalah pembimbing yang menuntun murid menghadapi diri sendiri dengan lembut. Ada sesuatu yang menenteramkan ketika seseorang yang lebih tua berkata, "Aku juga pernah begitu," lalu menunjukkan caranya menata kembali niat.

Di tengah perjalanan, komunitas kecil itu mengalami ujian: ada salah paham antar anggota, gosip yang merembes ke pasar, dan seseorang yang mulai absen tanpa kabar. Ustadz Karim memilih menenangkan lebih dulu, mengumpulkan yang hadir, dan mengajak untuk duduk bersama. Ia mengingatkan bahwa ilmu yang dipelajari harus menghasilkan adab—adab bermaaf, adab menjaga lisan, adab memperbaiki keadaan.

وَقُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْنًا
“Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 83)

Akhirnya, kasus itu terselesaikan bukan dengan hukuman, tetapi dengan dialog dan permintaan maaf yang tulus.

Mira menyaksikan perubahan dalam komunitas itu. Mereka tidak hanya lebih sering hadir di majlis ilmu, tetapi lebih sabar menunggu giliran berbicara, lebih ringan menolong saat ada yang kesusahan, dan lebih sering mengajak yang jauh untuk kembali. Ia melihat bahwa murabi sejati tidak membuat muridnya bergantung; ia menjadikan murid sebagai cermin, masing-masing saling mengingatkan dan meneguhkan.

"Yang membuat ilmu hidup bukanlah hafalan banyak kata, melainkan kehadiran kecil untuk menunaikan sunnah-sunnah kasih dalam kehidupan." — Ustadz Karim

Tahun demi tahun, liqo itu menjadi bagian dari ritme hidup Mira. Ia menikah, bekerja, dan kadang terdengar lelah. Namun setiap Kamis, ia akan menyisihkan waktu—walau hanya satu jam—untuk hadir. Ia membawa bekal: kotak kecil, air mineral, dan catatan yang kian tebal. Jarang ada ceramah panjang—yang ada adalah obrolan hangat, koreksi lembut, dan doa yang dibaca bersama.

Pada suatu hari ketika seorang pemuda baru bertanya dengan rendah hati, "Bagaimana cara saya memulai jika saya merasa tak punya waktu?" Ustadz Karim menjawab sambil mengutip ayat:

فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (QS. At-Taghābun: 16)

Jawaban itu tidak spektakuler, tapi menuntun pemuda itu untuk memaksa langkah kecil yang konsisten.

Di akhir cerita ini, Mira menutup catatan yang penuh dengan tinta dan bekas kopi. Ia memandang wajah-wajah yang kini menjadi teman perjalanan—mereka yang tiap Kamis datang bukan demi gelar atau pujian, tetapi untuk saling menjadi penopang. Murabi telah mengajarkan satu hal yang paling sederhana namun paling sukar: ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang melahirkan akhlak. Dan di situ, dalam lingkaran liqo yang sederhana, Mira menemukan dirinya—bukan sebagai yang sempurna, tetapi sebagai insan yang terus bertumbuh.

Terbitan: arrayyannews

arrayyannews
arrayyannews

Media dakwah & inspirasi Islami yang menyajikan kisah, renungan, dan nasihat hati untuk menemani perjalanan iman pembaca.

Baca Cerpen Lainnya

Tidak ada komentar:

AR-RAYYAN-MEDIA

UPA bukan sekadar pertemuan mingguan.

UPA - Unit Pembinaan Anggota UPA • Unit Pembinaan Anggota Bukan Sekadar Dudu...