Ar-Riyādah (Kepeloporan) Kader Dakwah
Menjadi pelopor dalam ruhani, ilmu, dan gerakan dakwah demi kebangkitan umat.
KH. Hilmi Aminuddin
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 104)
Pertama — الرِّيَادَةُ الرُّوحِيَّةُ وَالْمَعْنَوِيَّةُ
Kepeloporan dalam rūhiyyah dan ma‘nawiyyah — yaitu dalam mentalitas dan moralitas. Seorang kader dakwah harus menjadi pelopor dalam kekuatan ruhani, keteguhan jiwa, dan ketulusan hati. Ia menjaga hubungan dengan Allah SWT, memperkuat keimanan, dan menjadi teladan akhlak bagi masyarakat.
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra‘d [13]: 11)
Kedua — الرِّيَادَةُ الْفِكْرِيَّةُ وَالْعِلْمِيَّةُ
Kepeloporan dalam pemikiran dan keilmuan. Kader dakwah harus terus belajar, membaca, meneliti, serta memperdalam pemahaman terhadap agama dan realitas umat. Kepeloporan dalam ilmu menjadikannya sumber solusi dan rujukan ilmiah dalam menghadapi tantangan zaman.
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan memahamkannya dalam urusan agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketiga — الرِّيَادَةُ بِالدَّعْوَةِ وَالْحَرَكَةِ
Kepeloporan dalam dakwah dan pergerakan. Selain ilmu dan pemahaman, kader dakwah harus mampu bergerak: menjadi motor perubahan sosial, menyampaikan seruan kebaikan, serta menolak kemungkaran dengan strategi yang bijak, terarah, dan penuh hikmah.
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً“Sampaikanlah dariku walau satu ayat.” (HR. Bukhari)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar