NEWS
Di Ujung Sungai Ada Samudera Ridha
Prolog
Hidup seringkali terasa seperti aliran sungai: berliku, kadang deras, kadang tenang. Afnan, pemuda desa sederhana, menemukan makna kehidupan ketika ia belajar bahwa setiap liku bukan tanda putus asa, melainkan jalan yang mengantarkan pada samudera ridha—ridha Allah yang menenangkan.
Bab 1 — Liku Pertama
Sejak kecil Afnan suka duduk di tepi sungai kecil dekat rumahnya. Ia memandangi air mengalir dan bertanya dalam hati: "Mengapa sungai tidak pernah lelah?". Pertanyaan sederhana itu menjadi pintu masuk pencariannya akan makna hidup.
Bab 2 — Belokan Takdir
Kehidupan berubah ketika ayah Afnan wafat mendadak. Tanggung jawab turun di bahunya. Dalam kegelapan itu, keluarga mengingatkan sebuah firman yang menjadi penguat:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا"Fa inna ma‘al ‘usri yusra. Inna ma‘al ‘usri yusra." — QS. Al-Insyirah: 5-6
Bab 3 — Arus yang Menguatkan
Afnan bekerja keras: berniaga, mengajar anak-anak mengaji di mushola, dan membantu ibunya. Ia menemukan bahwa memberi manfaat membuat jiwanya semakin tenang. Seorang ustadz tua berkata kepadanya bahwa sungai tak takut belokan — kata-kata itu mengubah cara pandangnya.
Bab 4 — Cinta yang Menguji
Di desa berseberangan, Maryam hadir sebagai teman seperjuangan. Mereka saling menguatkan, namun cinta membawa ujian baru: apakah rasa itu mengantarkan pada ridha Allah atau menggoyahkan jalan menuju-Nya? Mereka berdua memilih untuk saling berdoa dan menjaga niat.
Bab 5 — Samudera Ridha
Akhirnya Afnan menyadari bahwa tujuan hidup bukanlah sekadar kebahagiaan dunia, tetapi mendapatkan ridha-Nya. Setiap luka, kehilangan, dan kebahagiaan menjadi bagian dari aliran yang menuntunnya ke lautan yang tenang—samudera ridha Allah.
Epilog
Novel ini mengajak pembaca merenung: ketika hidup berliku, tidak perlu gentar. Teruslah mengalir dengan niat yang lurus, beramal, dan berserah—karena di ujung sungai ada samudera ridha yang menanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar