Selasa, 30 September 2025

Tak Perlu Membela Diri dengan Kata-Kata — Versi Novel Religi

Tak Perlu Membela Diri dengan Kata-Kata —
Versi Novel Religi

Oleh arrayyannews · Cerita panjang inspiratif bergaya narasi religius

Di sebuah kampung kecil yang diapit sawah dan masjid tua, ada seorang pemuda yang belajar bahwa karya berbicara lebih keras daripada kata-kata.

Senja sedang menyingkap tirainya ketika Hasan pulang. Langit berwarna oranye redup, burung-burung pulang ke sangkarnya, dan suara adzan hampir terdengar dari menara masjid. Di beranda rumah, ia duduk memandangi jalan tanah yang berdebu—tempat lalu-lalang cerita dan rumor kampung itu lahir.

Teman: "Hasan, kau selalu pandai berbicara di depan orang. Kau punya gagasan besar. Tapi, mana hasilnya? Jangan cuma bicara, kami ingin lihat bukti."

Hasan menelan ludah. Ia ingin menjawab, menegaskan bahwa ia berusaha. Namun sesuatu menahannya—sebuah peringatan yang diucap ibunya semasa kecil: "Jangan biarkan amarahmu menuntun kata-katamu.">

Hasan pulang dengan kegundahan. Di kamar kecilnya, ia menulis: "Aku ingin membuktikan. Tapi kata-kata seperti debu; terangkat lalu hilang. Apa yang mesti kulakukan?"

Malam Perenungan

Dalam kesunyian malam, lampu tidur berpendar lemah, ia membuka mushaf kecil yang selalu dibawanya. Matanya berhenti pada sebuah ayat yang pernah menenangkan hatinya ketika ia masih muda:

وَقُلِ ٱعْمَلُوا۟ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُۥ وَٱلْمُؤْمِنُونَ
"Katakanlah: bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin." (QS. At-Taubah: 105)

Ayat itu seperti angin sejuk yang menenteramkan; ia mengingatkannya bahwa pembelaan yang sejati bukanlah balasan kata—melainkan usaha yang konsisten.

Langkah-langkah Kecil

Sejak saat itu, Hasan memilih rencana sederhana namun teguh. Ia membuka kelas mengaji untuk anak-anak kampung setiap sore setelah pulang kerja. Ia memperbaiki pintu-pintu rumah yang lapuk, membantu memperbaiki sumur, dan mengumpulkan kayu untuk memperbaiki atap rumah-sedang-hujan milik tetangga tua.

Setiap tindakan tak pernah ia pamerkan. Jika seseorang bertanya, ia hanya tersenyum dan mengatakan, "Ini untuk Allah dan untuk kampung." Karyanya berjalan sendirian, seperti pohon yang menumbuhkan buah tanpa berteriak kepada dunia.

Konfrontasi yang Terdiam

Beberapa bulan berlalu. Pada suatu pagi, salah satu teman yang dulu mencibir datang ke musholla. Ia melihat anak-anak membaca Al-Qur'an dengan lancar, melihat atap yang dulu bocor kini rapih, dan mendengar tawa para ibu yang tenang karena rumah mereka telah diperbaiki.

Teman: "Hasan... aku... aku tidak tahu harus berkata apa."

Hasan hanya mengangguk, tak tergoda ingin mengungkit kata-kata lama. Ia tahu sesuatu yang lebih penting: kebaikan yang ia lakukan telah berbicara.

Kedamaian itu tidak perlu pengakuan. Hasil yang nyata telah meredakan segala kebisingan retorika yang dulu memenuhi udara kampung.

Pelajaran untuk Pembaca

  1. Kata-kata mudah terlupakan. Manusia bisa memoles ucapan, tapi amal manusia hanya tampak lewat buahnya.
  2. Kesabaran berkarya adalah ibadah. Diam sambil bekerja tidak sama dengan menyerah; itu bentuk tawakkal dan istiqamah.
  3. Allah melihat lebih dari apa yang tampak. Di hadapan-Nya, setiap usaha akan diberi nilai; bukan sekadar pujian manusia.

Akhir Kisah

Hasan tumbuh menjadi seseorang yang sederhana. Ia tidak kaya secara harta, tetapi kaya secara pengaruh. Karyanya tersebar seperti benih; ia tidak menuntut balasan, hanya berharap menjadi jalan kecil bagi orang lain untuk merasakan manisnya bantuan dan kebaikan.

Pada suatu sore yang lain, ketika ia duduk di beranda yang dulu menjadi saksi kegundahannya, seorang anak kecil mendekat dan menggenggam tangannya. Tanpa kata, anak itu menunjuk ke arah musholla yang kini ramai. Senyum Hasan adalah jawaban terbaik bagi segala cela yang pernah ia terima.

Catatan: Kisah ini fiksi namun sarat hikmah — sebuah cermin kecil bagi kita agar memilih karya daripada argumen kosong.

Tidak ada komentar:

AR-RAYYAN-MEDIA

RKI Tartil Al-Qur’an Balapulang Wetan RKI Tartil Al-Qur’an Balapulang Wetan by arrayyannews RKI ...