🌾 Novel Religi: Padi yang Merunduk 🌾
Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hamparan sawah hijau, hiduplah dua sahabat: Mas Hadi dan Riyanto. Mereka tumbuh bersama sejak kecil, namun jalan hidup menuntun keduanya pada perbedaan yang mencolok.
Mas Hadi adalah sosok yang tenang. Kehidupannya sederhana, namun tutur katanya selalu menyejukkan hati. Ia ibarat padi yang merunduk—semakin berisi, semakin rendah dirinya. Hatinya selalu terpaut dengan masjid, langkahnya ringan menuju majelis ilmu. Di wajahnya terpancar cahaya orang yang dekat dengan Allah.
Sementara Riyanto, sahabat masa kecilnya, justru kerap terhanyut dalam gengsi dunia. Ia ingin selalu tampak tinggi, ingin selalu dipandang. Riyanto ibarat ilalang yang menjulang—berdiri gagah, tetapi hanya menutupi pandangan dan tak memberi arti. Keangkuhan membuatnya jauh dari ketenangan.
Suatu sore, selepas shalat Maghrib di surau desa, Mas Hadi menghampiri Riyanto yang sedang duduk termenung di pinggir jalan. Angin membawa aroma tanah basah dan suara jangkrik mengiringi percakapan mereka.
“Yan, kita ini dididik untuk menjadi padi yang merunduk. Tapi kenapa engkau memilih menjadi ilalang yang hanya menutupi pandangan?” ucap Mas Hadi lembut, matanya teduh menatap sahabatnya.
Riyanto terdiam. Kata-kata itu menusuk relung hatinya. Ia teringat masa kecil mereka—berlari di pematang sawah, mendengar nasehat orang tua, dan belajar Al-Qur’an bersama. Namun semakin dewasa, ia melupakan nilai-nilai itu demi keangkuhan semu.
“Hadi... mungkin aku terlalu sibuk mengejar pandangan manusia, sampai aku lupa pandangan Allah jauh lebih utama,” ucapnya lirih, menahan air mata.
Mas Hadi tersenyum, lalu mengutip ayat suci:
Sejak hari itu, Riyanto mulai berubah. Ia belajar menundukkan hati, melangkah ke masjid, dan kembali mengaji. Kehidupannya tak lagi dipenuhi gengsi, melainkan doa dan syukur. Sahabat itu kini sama-sama merunduk, seperti padi yang berisi. Desa pun merasakan berkah dari kehadiran keduanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar