Bukan Sekadar Duduk Melingkar
Tempat orang-orang biasa saling menguatkan, belajar istiqomah, dan bertumbuh bersama.
Malam itu ruangannya sederhana.
Karpet biru digelar seadanya. Dinding polos. Kipas angin bunyinya lebih semangat daripada anginnya. Beberapa sandal numpuk di depan pintu.
Satu per satu anak-anak muda mulai duduk melingkar. Ada yang baru pulang kerja. Ada yang masih pakai seragam lapangan. Ada yang datang sambil ngos-ngosan karena habis kehujanan di jalan.
Di tengah lingkaran kecil itu, masing-masing membuka mushaf dan buku catatan.
Suasana tenang. Tidak ada panggung. Tidak ada yang terlihat paling hebat.
Malam itu pembahasannya sederhana: tentang istiqomah.
Murabbi membuka obrolan pelan:
Semua diam. Karena kalimat itu terasa dekat.
Di lingkaran kecil itu, ada yang dulunya pemalu mulai berani bicara. Ada yang dulu jarang ke masjid, sekarang paling awal datang. Ada yang hidupnya dulu berantakan, pelan-pelan mulai punya arah.
Bahkan ada yang awalnya cuma diajak ngopi, eh sekarang rutin hadir tiap pekan. 🤣
UPA memang terlihat sederhana.
Duduk melingkar. Ngaji. Diskusi. Kadang ditutup kopi dan gorengan.
Tapi dari tempat sederhana seperti itu, lahir banyak orang yang diam-diam menguatkan masyarakat.
Ada yang jadi guru. Ada yang jadi pengusaha jujur. Ada yang aktif bantu warga. Ada yang tetap sederhana, tapi selalu hadir saat orang lain membutuhkan bantuan.
Malam makin larut.
Buku mulai ditutup. Obrolan kecil mulai terdengar. Ada yang lanjut bercanda. Ada yang masih berdiskusi di pojokan.
Sebelum bubar, murabbi berkata pelan:
Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sorakan.
Tapi entah kenapa, kalimat itu tinggal lama di kepala.
Dan malam itu saya paham...
UPA bukan sekadar pertemuan mingguan.
Ia adalah tempat pulang. Tempat bertumbuh. Tempat orang-orang biasa saling menjaga agar tetap kuat berjalan di tengah dunia yang sering bikin lelah.