Jumat, 16 September 2022

Perjuangkan Akhiratmu


ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻭﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺑﺮﻛﺎﺗﻪ


اعوذبالله من الشيطان الرجيم

بسم الله الرحمن الرحيم

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتَهْدِيْه

ِ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَهَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.


Puji syukur kehadirat Allah ﻋﺰّﻭﺟﻞّ atas segala nikmat dan karuniaNya sehingga kita bisa berjumpa di kajian malam ini, dalam kafaah keilmuan kita untuk menjadi seorang yang lebih baik lagi dalam bertaqarrub kepada Allah, menguatkan Azzam dalam jamaah, memaksimalkan potensi dakwah, menyemaikan syariah dalam bermuamalah hingga dunia bersemai indah.


Shalawat dan salam kita haturkan pada baginda Rasulullah ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ , yang berahklak mulia, uswatun hasanah.

Semoga terus memotivasi kita untuk terus menjadi lebih baik.


Semoga pada malam hari yang barokah ini, insyaAllah mampu menerangi kita untuk selalu dekat dengan-Nya untuk menuju Jannah yang Abadi…

Aamiin ya robb


Materi pada malam hari ini berjudul “What is LiQo’?”


M a T e R i


What is LiQo’?

Kata halaqah berasal dari bahasa arab yaitu halaqah atau halqah yang berarti lingkaran.


Kalimat halqah min al-nas artinya kumpulan orang yang duduk


(Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir: Kamus Arab – Indonesia,


hlm. 290)


Halaqah sendiri dikenal dalam berbagai istilah, ada yang menyebutnya dengan usrah(keluarga), karena metode halaqah ini

lebih bersifat kekeluargaan.


Ada pula yang menyebutnya dengan LiQo’ atau pertemuan. Halaqah adalah sebuah istilah yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan, khususnya pendidikan atau pengajaran Islam (tarbiyah Islamiyah). Istilah halaqah(lingkaran) biasanya digunakan untuk menggambarkan sekelompok kecil Muslim yang

secara rutin mengkaji ajaran Islam. Jumlah peserta mereka dalam

kelompok kecil tersebut berkisar antara 3-12 orang. Mereka mengkaji Islam dengan manhaj (kurikulum) tertentu. Biasanya kurikulum tersebut berasal dari murabbi/naqib yang mendapatkannya dari jamaah (organisasi) yang

menaungi halaqah tersebut. Di beberapa kalangan, halaqah disebut

juga mentoring, ta’lim, pengajian kelompok, tarbiyah atau sebutan lainnya.


Halaqah merupakan kumpulan individu yang berkeinginan kuat


untuk membentuk kepribadian muslim secara terpadu yang


berlandaskan kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Oleh karena itu peranan halaqah sangat penting dalam tujuan pembentukan


kepribadian muslim, yang pelaksanaannya berlandaskan kepada


contoh Nabi dalam membina para sahabatnya. Halaqah sebagai

perisai pelindung bagi pesertanya dari pengaruh eksternal yang kotor.


Masing-masing peserta terikat hubungan persaudaraan yang


mendalam seperti keluarga. Halaqah juga merupakan kumpulan


individu yang mempunyai kepentingan yang sama untuk

meningkatkan iman dan amal saleh  Kepribadian Dai:


Bahan Panduan bagi Dai dan Murabbi, , Bekasi,


2003, hlm. 387)


Pendidikan melalui sistem halaqah ini mengembangkan program

yang berkelanjutan sehingga memperoleh suatu interaksi dengan

Islam secara intensif. Pematangan kejiwaan, pemikiran, akidah, dan

pematangan perilaku merupakan kegiatan berkelanjutan.


Pematangan secara berkelanjutan ini hanya dapat dilakukan dengan sarana halaqah.


Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa halaqah merupakan sekumpulan individu muslim yang bersungguh-sungguh dan berusaha untuk tolong menolong sesama anggota halaqah untuk mempelajari, memahami, dan mengamalkan Islam secara menyeluruh yang berlandaskan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah.

Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam (QS. Al-Maidah: 2)


“….dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan


pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”


Sejarah Halaqah


Halaqah sudah dimulai sejak awal Islam. Sebagaimana diketahui, Mekkah merupakan sentral agama bangsa Arab. Di sana ada

peribadahan terhadap Kakbah dan penyembahan terhadap berhala dan patung-patung yang disucikan seluruh bangsa Arab.


Cita-cita untuk memperbaiki keadaan bangsa Arab tentu bertambah sulit dan


berat jika orang yang hendak mengadakan perbaikan jauh dari keadaan lingkungan bangsa Arab. Hal ini membutuhkan usaha yang keras maka, dalam menghadapi kondisi seperti itu, tindakan yang

paling bijaksana adalah tidak terkejut karena tiba-tiba menghadapi sesuatu yang menggusarkan bangsa Arab. (Lihat: Shafiyyurrahman al Mubarakfuri, Ar-Rahiiqu al-Makhtuum: Bahtsun fi as-Sirah an Nabawiyah ‘Ala Shahibina Afdhalish Shalati Wa as-Salam, (terj. Kathur Suhardi), Pustaka al-Kautsar, Jakarta, 2010, hlm. 71)


Pada awal dakwah Islam di Mekkah, Rasulullah SAW menampakkan Islam kepada orang yang paling dekat dengannya, anggota keluarganya dan sahabat-sahabat karib Rasulullah SAW.


Rasulullah SAW mendakwahkan mereka dan juga siapa saja yang

memang diketahui mencintai kebaikan, kebenaran, dan kejujuran


beliau.

Rasulullah SAW menemui dan mengajarkan Islam kepada mereka

secara sembunyi-sembunyi, hal ini dilakukan karena untuk menjaga keselamatan masing-masing. Rasulullah SAW membuat pertemuan-pertemuan di rumah beberapa sahabat. Yang masyhur dalam proses


penanaman nilai-nilai ajaran Islam ini dilakukan di rumah al-Arqam.

Di dalam majlis ini, terdiri dari beberapa orang sahabat. Rasulullah

sendiri yang lebih banyak mendidik dan membentuk mereka agar

memiliki kepribadian yang Islami. Melalui halaqah pertama ini terbentuklah sekelompok orang mukmin yang senantiasa bahu membahu untuk untuk menegakkan kalimat Allah.


Pada periode dakwah di Madinah, halaqah pertama kali dilakukan di masjid. Nabi SAW melakukan tugas mendidik umat melalui halaqah di masjid yang menyatu dengan rumah beliau pada waktu-waktu yang dipilih.


Ibnu Mas’ud meriwayatkan :


ةاهر

اِم كي

ِِف اْلةِ ِعظو

مِالا بنلوخت يم

لسهِ ويلع اَّلل ََُّّل

صَِِب انلن

َكان

يلةِ عآم

الس


Nabi SAW membuat sela-sela (lingkaran) dalam ceramah pada hari-hari tertentu demi menghindari kebosanan. (HR. Bukhari No.66)


Dalam halaqah, Nabi menyampaikan materi ilmu yang beragam.


Namun yang paling diutamakan oleh Nabi adalah mengajarkan al Qur`an. M. Alawi al-Makki mengatakan:


Pada majelis-mejelis halaqah kenabian dipelajari ilmu-ilmu dasar

beserta kaidah-kaidahnya, seperti berbagai macam fadhilah, wawasan pemikiran, akhlak, tradisi yang baik, dan faedah-faedahnya

yang besar, yang merupakan sumber ilmu pengetahuan. Kami akan

menuturkan sebagian dari apa yang dipelajari para sahabat


pada halaqah agung yang mulia tersebut. Dan tidak diragukan lagi, sesungguhnya ilmu dasar terpenting di situ adalah al-Qur`an al Karim.


Pada zaman tabi’in, terdapat halaqah-halaqah ilmu di Madinah Munawwarah yang memakmurkan masjid Nabawi yang mulia. Di

masjid itu para ulama yang langka dari para

pembesar tabi’in berkumpul sebagaimana kumpulan gugusan bintang-bintang yang bersinar di jantung langit. Ada halaqah yang dipimpin ‘Urwah bin az-Zubair, ada halaqahyang dipimpin Said bin al Musayyib, dan ada halaqah yang dipimpin Abdullah bin ‘Utbah.


Menurut Satria Hari Lubis, dalam bukunya Menggairahkan Perjalanan Halaqah, halaqah berawal dari berdirinya jamaah


Ikhwanul Muslimin pada tahun 1928 M. di Mesir, Hasan al-Banna

sangat prihatin dengan kondisi umat Islam saat itu yang jauh dari

nilai-nilai Islam. Al-Banna berusaha keras mengembalikan umat


kepada agamanya. Dari pengamatannya yang mendalam, al-Banna


pun sampai pada satu kesimpulan bahwa hal ini disebabkan kaum muslimin tidak terdidik secara alami.


Lalu al-Banna pun


mengenalkan sistem pendidikan alternatif yang harus dilakukan oleh anggota jamaahnya. Sistem tersebut disebut dengan sistem usrah.


Anggota jamaah dibagi dalam kelompok-kelompok kecil berdasarkan

tingkat pemahamannya terhadap Islam (Satria Hadi Lubis, Menggairakan Perjalanan Halaqah: Kiat Agar Halaqah Lebih Dahsyat Full Manfaat, hlm.17-18)


Dengan dibimbing oleh seorang naqib, para anggota Ikhwanul Muslimin saat itu secara serius mempelajari Islam yang berorientasi

pada pengamalan Islam. Hasilnya, jamaah Ikhwanul Muslimin saat


itu dikenal oleh kawan dan lawannya sebagai metode halaqah bagi


pendidikan akhlak Islami yang anggotanya sangat konsisten

menegakkan Islam di dalam diri dan masyarakat. Sepeninggal Hasan al-Banna, sistem usrah dilanjutkan oleh para pengikutnya. Sistem ini

akhirnya menyebar dengan berbagai modifikasinya ke berbagai gerakan Islam lainnya.


Di Nusantara, sistem halaqah ini dikategorikan dalam sistem pembelajaran tradisional. Sistem halaqah ini sudah mulai diterapkan sejak masuknya Islam di Nusantara. Pada awalnya diterapkan di


masjid-masjid, surau, dan langgar-langgar yang merupakan cikal bakal lahirnya pesantren.


Seiring perkembangan zaman, pesantren juga ikut mengalami perkembangan, berupa lahirnya berbagai inovasi baru dalam dunia pendidikan pesantren. Tapi ada hal yang


merupakan ciri khas yang tidak bisa lepas yaitu penerapan sistem halaqah dalam pembelajaran di pesantren, meskipun sudah ada sistem pembelajaran klasik atau madrasah.


Kini fenomena halaqah atau LiQo’ menjadi umum dijumpai di lingkungan


kaum muslimin di mana pun mereka berada. Walaupun mungkin


dengan nama yang berbeda-beda. Penyebaran halaqah atau LiQo’ yang

pesat tidak bisa dilepaskan dari keberhasilan halaqah atau LiQo’ dalam mendidik pesertanya menjadi mukmin yang bertakwa kepada Allah .


Saat ini halaqah atau LiQo’ menjadi sebuah alternatif pendidikan keislaman yang masif dan merayap.


Di dalam halaqah tidak lagi melihat latar belakang pendidikan, ekonomi, sosial, atau budaya pesertanya.


Bahkan tanpa melihat apakah seseorang yang memiliki latar

belakang pendidikan agama Islam atau tidak. Halaqah/liqo telah menjadi sebuah wadah pendidikan Islam (tarbiyah Islamiyah) yang

semakin inklusif saat ini.


Why Tarbiyah Islamiyah?

Tarbiyah Islamiyah adalah suatu metode pembinaan kepribadian


Muslim yang bertujuan membentuk lahirnya manusia-manusia


Muslim yang ideal.


Untuk melahirkan manusia-manusia yang ideal tersebut, maka


kurikulum Tarbiyah Islamiyah harus berpijak pada metode yang


memahami Islam yang benar (shahih).


Memahami Islam yang


bersumber dari Kitab suci Al-Qur’an dan Hadits-hadits

Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang shahih sebagaimana yang


dipahami, diamalkan dan didakwahkan oleh manusia-manusia terbaik yaitu para shahabat Nabi yang diikuti oleh para Tabi’in dan selanjutnya diturunkan lagi kepada generasi Atbaaut Taabi’in. Ketiga

generasi ini (Shahabat, Tabi’in dan Atbaaut Taabi’in) diistilahkan oleh


Nabi dengan “khairun naass” (sebaik-baik manusia).


Tarbiyah Islamiyah yang shahih akan sempurna jika diiringi

sifat syamil (integral) bukan parsial (sebagian); yakni Tarbiyah Islamiyah yang yang menanamkan dan meyakinkan pemahaman bahwa Islam adalah Din yang Syamil, Islam adalah pedoman hidup


(minhajul hayah) yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.


Islam bukan hanya pedoman aqidah dan ibadah, bukan hanya


pedoman akhlak tetapi Islam adalah pedoman dalam berfikir, berinteraksi, pendidikan, budaya, berpolitik, berekonomi sampai

pengaturan keamanan, berbangsa dan bernegara.


Dalam konteks mengembalikan kemuliyaan atau kejayaan Islam dan ummat Islam, Tarbiyah Islamiyah yang shahih dan syamil memiliki beberapa urgensi.


Tarbiyah Islamiyah adalah Solusi dari semua problematika ummat


Solusi dari semua problem ummat merupakan urgensi tarbiyah.


Ummat islam pada hari ini tidak seperti keadaan ummat islam


dahulu. Dimana kejayaan-kejayaan yang dicapai ummat islam


terdahulu berbeda dengan saat ini, termasuk sifat atau karasteristik


mereka tidak lagi sama dengan kondisi sekarang ini.


Maka inilah yang disebut dengan problema,


Akibat problema inilah yang menyebabkan ummat Islam sekarang ini tidak lagi dikatakan sebagi ummat pemimpin, tetapi pada posisi yang


dipimpin, dikendalikan oleh musuh-musuh Islam, dikendalikan oleh


negara-negara barat. Ini adalah bukti problema.


Setiap muslim yang komitmen dengan agamanya tidak akan


membiarkan problema ini berlarut-larut, dia tidak akan membiarkan


dirinya tertindas, dia harus bangkit, bangkit kembali meraih kejayaan.


Pertanyaannya: Bagaimana caranya bangkit?


Imam

Malik Rahimahullah pernah mengatakan:


“Generasi akhir ummat ini tidak akan baik kecuali dengan (menempuh metode) yang telah menjadikan baik generasi pendahulunya.”


Rahasia utama kejayaan dan kemuliaan umat terdahulu adalah karena mereka berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasululullah Shallallhu alihi wa Sallam

Tarbiyah Islamiyah adalah metode untuk mengembalikan ummat

agar berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasululullah Shallallhu alihi wa Sallam.


Dengan demikian Tarbiyah Islamiyah memiliki urgensi dan peranan

yang sangat sentral untuk kembalinya kejayaan Islam dan umat

Islam.


Hukum Tarbiyah Islamiyah


1. Menuntut ilmu syar’i hukumnya wajib (fardu ‘ain)


Menurut para ulama, menuntut ilmu syar’i (ilmu agama)


hukumnya fardhu ‘ain bukan fardu kifayah,


Selain itu, belajar juga membutuhkan wadah atau sarana untuk


menuntut ilmu syar’i, Mengapa? Karena setiap orang akan terjatuh


kedalam dosa jika meninggalkan kewajiban tersebut.


Rasululullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”.

(HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Kitab Shahih

wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224)


Kesadaran menuntut ilmu akan mendorong kita untuk mencari


dimana wadahnya. Wadah yang mendukung untuk mendapatkan


ilmu itu. Manusia yang hidup tanpa dituntun Oleh ilmu syar’i, Maka


pola hidupnya akan sama dengan binatang, sebagaimana firman


Allah dalam (QS. Al-a’raf: 179)


Penjelasan QS. 7 (Al-a’raf): 179: Mengapa manusia(jika hidup tanpa tuntunan ilmu) dikatakan lebih sesat daripada binatang?, karena


binatang tidak akan dituntut nanti dihadapan Allah, binatang adalah


makhluk yang tidak bersyari’at. Ketika binatang kawin, makan dan

bergaul mereka tidak ada tuntutan syari’atnya. Mereka kawin

dengan anak kandungnya sendiri dan hal itu tidak ada larangannya.


Karena itulah Al-Qur’an diturunkan untuk manusia dan jin. Al-Qur’an tidak berlaku untuk binatang. Bisa dibayangkan jika kita


ditanya (oleh Allah) seperti itu, apakah kita juga menjawab seperti


binatang ? (Ulaaika humul ghaafilun) karena mereka itu lalai.


Dengan demikian kita membutuhkan ilmu syar’i. Sebab ilmu syar’i


berfungsi menjaga eksistensi kemanusiaan. Derajat Manusia bisa saja

jatuh kederajat yang lebih rendah. bahkan lebih rendah dari binatang ternak sekalipun. Olehnya itu dalam surah At-tiin Allah menyebutkan:


“sesungguhnya Kami menciptkan manusia dengan fisik yang sebaik-baiknya”


Artinya fisik yang terbaik (anatomi tubuh yang terbaik) dari seluruh


ciptaan Allah adalah manusia. Akan tetapi, karena ketidaktahuan


akan ilmu syar’i maka:


“tsumma radadnahu asfala saafilin =dan kami jatuhkan mereka pada


derajat yang paling rendah”

Karena itu, usaha untuk mempertahankan derajat manusia agar

tidak terjatuh adalah “illalladzina amanuu wa ‘amilusshalihaat”=


iman dan amal shalih”


Iman dan amal shalih hanya bisa diraih dengan ilmu syar’i.


Maka sangat tepat jika para ulama menetapkan bahwa menuntut ilmu


syar’i adalah fardhu ‘ain (tidak bisa diwakilkan) kepada anak kita atau teman kita. Jadi semuanya diwajibkan, dimana saja, merekapun wajib menuntut ilmu syar’i,


Tarbiyah adalah salah satu wadah menuntut ilmu syar’i. Karena


menuntut Ilmu Syar’i adalah kewajiban. Maka, Siapapun yang


enggan dan menolak untuk belajar ilmu syar’i, maka ia berdosa


seumur hidup.


1. Berilmu sebelum berkata dan beramal


Ini adalah perkataan Imam Bukhari Rahimahullah dalam Kitab Shahih


Al-Bukhari, salah satu judul bab dalam bukunya adalah:


“Ilmu dahulu sebelum berkata dan berbuat.” [Lihat Shahih Al Bukhari, Kitab Al-Ilmu, Bab Al-‘Ilmu Qablal Qaul wal ‘Amal (I/119)]


Sebelum kita melakukan segalanya baik berupa niat, ucapan, perbuatan, tindakan dan sebelum melakukan apa saja, terlebih

dahulu kita harus berilmu. Sebagaiman dalam firman Allah


QS.17:36


Artinya :

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggung jawabannya”.


Penjelasan: ayat ini berisi larangan untuk memindahkan perkataan

sebelum mengecek dengan seksama suatu perkataan. Apalagi jika


hal tersebut terkait dengan hukum syari’at. Seperti menghukumi


halal dan haram, mengatakan ini boleh dan itu tidak boleh. Ini


menunjukan begitu pentingnya ilmu syar’i. Dan salah satu wadahnya adalah bertarbiyah.


Tarbiyah ibarat mesin atau pabrik yang berfungsi mencetak kader-kader dakwah dan pejuang-pejuang Islam. Kader Islam bukan Muslim biasa, namun Kader Islam yang pada hakikatnya adalah Muslim yang luar


biasa. Sebab pada dirinya berpadu sifat-sifat dasar keislamanan


(pemahaman Islam yang benar, aqidah, ibadah, akhlak yang mulia)


dan karakter pejuang yang memiliki semangat berkorban dan kesungguhan bekerja untuk mewujudkan Izzul Islam wal Muslimin dalam bingkai jamaah (amal jama’i).


Jadi kalau kita menginginkan pertambahan jumlah manusia yang berkarakter baik dan berkualitas kader, maka harus digalakkan kegiatan tarbiyah islamiyah diberbagai tempat dan bisa menyentuh seluruh kalangan.


Ada dua alasan utama mengapa dibutuhkan adanya kader dakwah:

(1) Karena Kader adalah unsur perubah (agent of Change)


Kalau kita ditanya, apakah kita mau berubah?

(khususnya pada


kondisi negara kita), kita pasti menjawab iya. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan kearah yang lebih baik; dari ketidak


amanan menjadi aman, dari merajalelanya kemaksiatan menjadi


ketaatan. Dan dari kefakiran kepada kesejahteraa dan seterusnya.


Untuk merubah kondisi ini, dibutuhkan tenaga, itulah rijal (kader),


perubahan ini tidak akan muncul kalau tidak ada rijal, jadi janganlah


kita terlalu banyak berharap akan adanya perubahan dalam negeri


ini, kalau tidak bermunculan manusia-manusia yang berkualifikasi rijal. Dalam Al Qur’an disebutkan beberapa kata rijal,


Allah sebutkan paling tidak ada empat ayat. (QS. 9: 108, 24:37, 33:


23, 4: 34 ).


Yang dimaksud rijal dalam ayat-ayat ini adalah sahabat radhiyallahu’anhum. Mereka adalah contoh terbaik sekaligus patron manusia-manusia yang berkualifikasi Muslim Kader (Rijal).


(2) Dengan tersedianya Kader dakwah, maka kesinambungan


dakwah akan terjaga


Mengapa kita membutuhkan mesin pencetak kader ini? Tujuannya

karena untuk istimroriah da’wah. Untuk menjaga kesinambungan dakwah, dimana kader merupakan pelaku utamanya. Namun


jika mesin pencetak kader ini mandek, maka dakwah akan mandek


bahkan kemungkinan besar dakwah Islam akan berhenti.


Termasuk dalam konteks ini adalah tarbiyah keluarga. jika tarbiyah dalam rumah tangga tidak berjalan maka keluarga tersebut bisa mengalami “kegersangan” sehingga sulit mencetak kader-kader pelanjut dakwah.


(3) Tarbiyah berfungsi menjaga dan meningkatkan keimanan.


Diantara urgensi tarbiyah adalah menumbuhkan, meningkatkan, memelihara dan menambah Iman. Program tarbiyah adalah wadah atau sarana memelihara iman sehingga iman tetap dalam keadaan standar.


Tarbiyah dapat menjaga dan mengokohkan iman karena didalamnya sarat dengan program-program yang memelihara dan meningkatkan keimanan.


Diantaranya bertemu orang-orang shalih, tadarrus dan


tahfidz Al-Qur’an, nasihat murobbi, shalat berjama’ah, dan lain-lain. Ibnu Qayyim Rahimahullah pernah berkata:


“Saya ini belum mendapatkan nasihat dari guru saya (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah-Rahimahullah), baru melihat wajahnya keimanan saya kembali menjadi standar.”


Ada beberapa alasan mengapa kita perlu memelihara dan


memperkuat keimanan:


A. Sifat Iman Berfluktuasi


Karena iman berfluktuasi (turun-naik), maka iman setiap orang

kadang bertambah dan berkurang (naik-turun). Keimanan bertambah


naik ketika seseorang makin banyak melakukan ketaatan. Dan sebaliknya ia turun kalau seseorang semakin banyak melakukan dosa dan kemaksiatan. Karena itu kita butuh wadah, kita butuh sarana agar iman bisa bertambah minimal dalam keadaan yang


standar.


Tidak ada nikmat yang paling besar dari Allah kecuali nikmat iman.


Meskipun dalam keadaan terpaksa, membuat kita harus memilih antara nikmat iman dan nikmat hidup. Artinya kondisi dimana anda diberikan pilihan ingin memilih hidup atau memilih iman. Para


salafushaleh kita memberikan contoh. Disaat mereka lebih memilih iman-nya dan mereka tidak memilih hidup. Itulah sebabnya keluarga Yassir Radhiyallahu ‘Anhuma rela mengorbankan hidup mereka demi mempertahankan keimannya.


Demikian pula Da’i yang rela mengorbankan hidupnya ditiang gantungan untuk mempertahankan


imannya.


B. Iman adalah syarat utama untuk meraih kebahagiaan dunia dan

akhirat


Kita membutuhkan iman, karena iman merupakan syarat utama untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.


Kebahagiaan yang hakiki tidak akan mungkin kita raih, jika kita tidak mempunyai iman. Sekalipun seluruh nikmat duniawi kita miliki.


Namun kita tidak memiliki iman, maka kebahagiaan tidak akan kita raih.


Perumpamaan iman ibarat angka hidup (satu sampai sembilan).


Sedangkan nikmat yang lainnya ibarat angka “nol”. Bagaimanapun


banyaknya angka nol yang berhasil kita kumpulkan. Tetapi tidak ada angka hidup yang berada di samping angka nol-nol tersebut, maka


pada hakikatnya tidak ada gunanya. Inilah pentingnya nilai iman.


Alloh Ta’ala berfirman dalam QS. An Nahl, ayat 97


ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﺻَﺎﻟِﺤًﺎ ﻣِﻦْ ﺫَﻛَﺮٍ ﺃَﻭْ ﺃُﻧْﺜَﻰٰ ﻭَﻫُﻮَ ﻣُﺆْﻣِﻦٌ ﻓَﻠَﻨُﺤْﻴِﻴَﻨَّﻪُ ﺣَﻴَﺎﺓً ﻃَﻴِّﺒَﺔً ۖ ﻭَﻟَﻨَﺠْﺰِﻳَﻨَّﻬُﻢْ ﺃَﺟْﺮَﻫُﻢْ ﺑِﺄَﺣْﺴَﻦِ ﻣَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ


“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik


dari apa yang telah mereka kerjakan”


Demikian penjelasan tentang arti LiQo’ atau halaqoh dan sejarahnya.


Semoga kita semua mendapat taufik dari Alloh SWT untuk senantiasa bersemangat mendatangi halaqoh-halaqoh ilmu kapanpun dan dimanapun kita berada. Aamien..


Wallohu A’lam


TaNYa JaWaB


01. Upi

Saya mad’u yang vakum holaqoh selama 7 tahun. 7 tahun bukan waktu yang sebentar ya ustadzah. Sedangkan saya LiQo’ sejak 1995-2010. Termasuk ashabiqunal awwalun di SMU, sudah punya banyak mad’u.

Mengapa saya vakum banyak faktor salah satunya adalah bergesernya kenyamanan saya. Saya faham benar dalam sebuah holaqoh keikhlasan harus di kedepankan.


Pertanyaannya

1. Bagaimana saya memulai kembali agar tiang-tiang berjama’ah saya kembali berdiri tegak bersama holaqoh

2. Suami dan saya sekarang rutin di kajian-kajian yang sifatnya umum artinya kajian yang tidak terikat untuk menjaga tsaqofah kami…apa bisa?

3. Bolehkah saya memilih murobbi?

4. Admin bolehkah saya japri untuk masalah pribadi yang tidak mungkin di ungkap di grup ini?


Jazakillah khairan katsiran


Jawab:

1. Bisa mencari informasi dibantu oleh panitia untuk menghubungkan dengan orang yang terdekat.


2. Kajian untuk tsaqofah bisa tapi kelemamahan yang tidak tercakup dikajian tersebut adalah kebersamaan ukhuwah dan kesinambungan materi utk perubahan perilaku kearah yang lebih baik.


02. Kangen

Bagaimana kita tahu LiQo’ yang akan kita ikuti itu LiQo’ yang sesuai dengan Al Quran dan Sunah Nabi??


Jawab:

Ketika acuan yang digunakan Al Quran dan hadits… Sebagai acuan utama.


03. Adhani

Halaqoh ini Kan seumur hidup, untuk kelas-kelas atau level dalam halaqoh sendiri dari yang paling rendah ke yang paling tinggi apa saja?

Dan bagaimana Hak Dan kewajibannya?

Bagaimana jika Ada mutarobbi yang berbeda fikroh tapi tetep mengikuti halaqoh tarbiyah, maksdnya ikut kedua-duanya, cara Kita mengarahkannya bagaimana?


Jawab:

Sebenarnya istilahnya bukan kelas rendah atau kelas tinggi tapi lebih kepada tataran pembahasannya dari yang hanya sekedar tahu sampai meningkat menjadi faham kemudian meningkat ketataran bagaimana mengamalkannya, kemudian menganalisa materi tersebut dikaitkan dengan kondisi sekarang dan kemudian menyimpulkan kondisi yang terjadi diseputaran kita.

Kajian dan materi yang kita bahas terletak dimananya.

Jadi ditatatan yang masih baru pendekatannya ditekankan untuk tahu dulu yang dimunculkan baru kemudian materi yang sama ditindaklanjutin dengan yang lebih mendalam. Jadi materi itu bisa berulang-ulang tapi pembahasannya lebih mendalam dan lebih mengarah kepada pemahaman dan bisa mendudukkan posisi kita dalam amal islami itu letaknya dimana.


Pertanyaan kedua belum di jawab

Bagaimana jika ada mutarobbi yang berbeda fikroh tapi tetap mengikuti halaqoh tarbiyah, maksdnya ikut kedunya, cara Kita mengarahkannya bagaimana?


Halaqah atau LiQo’ kita adalah keluarga kita karena keimanan…

Gapapa… Santai aja…

Nanti berjalan dengan waktu…

Dia akan bisa menilai kesimpulan yang kita bangun dalam halaqoh.


04. Letter

Bagaimana menyemangati diri ketika musim hujan tiba… Mesti males karena kacamata mengembun dan lainnya.


Jawab:

Hehe… Kok kacamata mengembun…

Makin besar pengorbanan… Makin besar pahalanya…


05. Refia

Apakah dengan mengikuti LiQo’ ini secara otomatis masuk ke aliran tertentu atau organisasi atau partai tertentu??


syukron ustadzah


Jawab:

Ini tergantung kebijaksaan pembina atau murobbinya… Kita harus mengacu ke surat Ali Imran…


مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ


Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, “Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah,” tetapi (dia berkata), “Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya!”


-Surat Ali-Imran, Ayat 79


Jadi maksudnya… Tujuannya adalah Allah… Bukan murobbinya… Bukan alirannya…

Bukan partainya…


Ooo…begitu ya ustadzah


Soalnya kakak saya ikut LiQo’ terus tau-tau masuk partai.


Jadi ragu ustadzah,


Kemarin di kampus saya ada semacam halaqoh atau LiQo’ itu tapi namanya asistensi.


Nah saya sudah ikut beberapa kali namun karena suatu hal saya non aktif disana.


Saya ingin lanjut tapi saya pengen ikut diluar kampus saya.


Tidak apa kah ustadzah?


Boleh…

Dimana saja… Intinya kita punya komunitas kebaikan… Yang punya cita-cita sama mendekat pada Allah.

Dan yang utama dengan berhalaqoh kita punya keluarga karena keimanan…

Sebagai sarana dakwah juga bagi yang siap… Karena jika sarana dakwah tidak beragam… Maka kecepatan dakwah kurang melesat…

Atas izin Allah syaa Allah.


06. Fitri

Bagaimana cara memahamkan agar teman-teman yang putus LiQo’ bisa LiQo’ lagi.

Alasan mereka ada yang karena tidak cocok dengan murobi nya temen-teman LiQo’ nya tidak asik dan lainnya.


Saya sudah coba dengan mengatakan,

Seseorang itu tidak bisa di nilai dari seberapa lebar atau panjang kerudung yang dia pakai atau sudah seberapa lama dia LiQo’?


Jawab:

Ini sebagai otokritik untuk para murobi atau pembina agar lebih kreatif dalam membangun suasana LiQo’ agar lebih menggairahkan…

Dengan semangat saling cinta… Saling sharing… Saling mengingatkan


إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ


Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.


-Surat Al-Hujurat, Ayat 10


07. Pitria

Selama ini saya ikut LiQo’ alhamdulillah punya murobbi yang semangat dan bergairah dalam dakwah begitupun teman-teman LiQo’.. nah, baru sekitar 2 bulan ini LiQo’ rolling murobbi. Alhamdulillah murobbinya juga super. Tapi teman-teman LiQo’ yang sekarang kurang semangat.. kadang datang 2-3 orang padahal 1 kelompok ada 9 orang.. terkadang semua ini bikin tidak bergairah.. bagaimana agar gairah untuk tetap LiQo’ tetap terjaga dan teman-teman yang jarang datang dan bahkan belum datang sama sekali bisa hadir juga semangat dalam ber LiQo’..

Jazakillah ustadzah


Jawab :

Hidayah hak Allah…

Kita yang sudah mendapat hidayah semangat syukuri… Dan berusaha membantu murobi untuk memotivasi yang lain…

Dicari juga akar masalahnya apa sehingga tidak mau hadir… Mungkin waktu ya g kurang pas… Jarak dan lainnya.. Lalu cari solusinya.


08. Haning

Bunda, mohon diterangkan kaitan kader dengan _rijal_ pada ayat 4 : 34. Saya hanya tahu rijal adalah pria pemimpin bagi perempuan.


Jawab :

Rijal itu sifat keberanian…

Semangat Pantang mundur…

Yang bisa juga dimiliki perempuan.

Bisa juga bermakna sosoknya laki-laki atau yang memiliki sifat tadi.


09. Wida

Apakah ada tempat LiQo’ yang terbagi atas kelas-kelas tertentu? Maksud saya misal untuk yang masih baru bergabung? Mengingat, jika kita bergabung dengan yang sudah ada, kadang diri merasa minder, karena pengetahuan jauh dibawah yang sudah senior, akibatnya membuat tidak bersemangat untuk LiQo’..

Mohon info nya juga ustadzah apabila ada..


Jazakillahu khoir.


Jawab:

Mungkin tidak nyaman di awal saja… Selanjutnya in syaa Allah nyaman.


10. Shoffia

Memang kalau LiQo’ itu pendek bunda?? (maaf belum tahu sama sekali mengenai LiQo’)


Jawab :

Maksudnya… Tidak mengejar selesai dalam 1 pertemuan… Karena sifatnya yang rutin

Jadi materi bisa dipotong-potong…


Oh bersambung terus gitu ya.


Iyaa… Bersambung dan mendalam.


11. Ummu Aninda

Bagaimana menjaga semangat untuk tetap rajin mengikuti LiQo”?

Kadang pas waktu LiQo’ mingguan hadir juga rasa malesnya.


Jawab:

Hadir LiQo’ kita itu harus dimaknai dengan hadir di Taman Surga Allah di dunia (hadits) Jadi harus diprioritaskan…

Jika kita memprioritaskan taman surga Allah di dunia… Mudah-mudahan Allah ridho kita masuk ke Taman Surga Nya Allah nanti di Yaumil akhir

Faidza azzamta fatawakkal alallah… Kalau sudah ada tekad yang kuat… Nanti semua ujian… Baik dari internal diri maupun luar diri akan Allah singkirkan

Kalau masih ragu… Ada saja rintangan yang Allah hadirkan pada kita hingga terhambat menikmati taman surga Allah di dunia.

Yang malas…

Yang hujan…

Yang lemes…

Yang ban kempes dan lainnya.


Kejar surga Allah dengan kejar halaqah-halaqah yang berisi dzikrullah

Dzikrullah bukan hanya dimaknai bibir yang basah dengan dzikir tapi majelis yang Allah sebagai fokus pembahasan…


CLoSiNG STaTeMeNT


Mari kita berlomba-lomba memiliki keluarga karena keimanan yaitu Halaqoh atau LiQo’… Sebagai sarana nanti mendapatkan naungan dimana tidak ada naungan lain kecuali naungan Allah…

Sarana mendapatkan syafaat jika terperosok ke neraka…

Sarana ditempatkan di mimbar-mimbar dari cahaya di surga Nya…

Bersabarlah bersama keluarga kita itu…

Dan Mudah-mudahan… Kita pun nanti bisa saling memberikan keringanan di antara kita di yaumil akhir…


PeNuTuP


Akhirnya usai sudah kajian kita malam hari ini


Banyak terima kasih atas waktu juga ilmunya Bunda Indra Asih, insya Allah sangat bermanfaat untuk kami. Semoga menambah keilmuan dan kebarokahan bagi bunda. Aamiin.


Terima kasih juga untuk Para Bidadari atas kehadiran dan peran aktifnya dikajian malam hari ini.


Mohon maaf yang sebesar-besarnya atas hal-hal yang kurang berkenan selama kajian berlangsung.


Mari kita tutup dengan beristighfar…

Astaghfirullohal adzim…


Mengucap hamdallah bersama…

Alhamdulillahirabbil’alamiin…


Dan Do’a Khafaratul Majelis…


سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان

لا إله إلا أنت

أستغفرك وآتوب إليك


“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”


Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Tidak ada komentar:

AR-RAYYAN-MEDIA

UPA bukan sekadar pertemuan mingguan.

UPA - Unit Pembinaan Anggota UPA • Unit Pembinaan Anggota Bukan Sekadar Dudu...