Jumat, 26 Agustus 2022

Bukan Hanya Sekedar Hijrah

 


Hijrah itu bukan hanya sekedar berubah, tapi menuntut kita untuk selalu berilmu dan beramal

Hijrah adalah sebuah perjalanan panjang nan berliku

Dan hijrah ini bukan hanya dilakukan oleh orang-orang karena banyaknya dosa dimasa lalunya, tetapi hijrah ini untuk “semua orang yang mau” menjadikan dirinya menjadi lebih baik untuk menghamba kepada Allah ﷻ.


Hijrah itu ketika engkau mengayuhkan langkahmu dari masa lalu yang suram ke masa dimana engkau mendekat pada-Nya


Sebab hakikat hijrah adalah ketika engkau meninggalkan segala sesuatu yang tidak diridohi oleh Rabb-mu atas dasar engkau takut pada-Nya bukan sekedar merubah tampilan saja di mata manusia.


Hijrah bukan “sebatas” mengikuti sunnah dengan berjenggot serta pakaian yang tak lagi isbal (bagi kaum laki-laki), atau pakaian longgar, panjang dan lebar bahkan bercadar menutupi seluruh tubuh (bagi kaum wanita)


Wahai diri pemahaman hijrah TAK CUKUP  SEBATAS ITU, perihal “merubah tampilan” hanyalah perkara mudah dan kurasa semua orang mampu melakukannya.


Jangan sampai perubahanmu hanyalah pemanis tampilanmu saja yang menipu ribuan pasang mata  yang melihatnya


Jangan jadikan hijrahmu hanyalah pemanis riwayat kehidupanmu saja.


Ketahuilah bahwa perjalanan hijrah memiliki “rute” dan rutenya adalah mempelajari syariat islam dengan benar.


Hijrah selalu beriringan dengan ilmu, semakin luas ilmu mu tentang syariat maka sungguh engkau semakin paham makna hijrah yang sesungguhnya.


Dalam sebuah kesempatan Ustadz Dr.Erwandi Tarmizi MA. pernah menyampaikan bahwa,


 “...Tidak halal bagi seorang muslim, mendahulukan perbuatan apapun juga, sebelum ia mengetahui syariat Allah dalam perbuatan tersebut...” 


Maka hijrah itu butuh ilmu, jika kita berani hijrah pastikan diri kita untuk terus belajar sehingga mengetahui kaidah-kaidah pokok dalam agama dan mengamalkannya!

Baca tentang penilaian orang

📃Ilmu Tauhid untuk Mengokohkan Iman.


Sebelum Fiqh menjadi dasar kehidupan beragama, tauhid seharusnya ditanamkan terlebih dahulu pada diri seseorang.


Begitulah cara Rasulullah ﷺ mendakwahkan Islam kepada ummat manusia

[ Ibn Abi al Izz al Hanafy, Syarh al Aqidah al Thahawiyah, hal 77]


Sebelum ummat Islam mengenal kewajiban shalat, zakat, puasa dan naik haji, terlebih dahulu mereka diperkenalkan terhadap siapa yang akan disembah, dan siapa yang dipercayai sebagai pembawa risalah kehidupan yang nantinya menjadi aturan penting dalam kehidupan manusia.


Sebab secara nalar akal manusia normal, tidak mungkin akan menerima tatacara menyembah suatu Dzat sementara Dzat yang akan disembah masih belum diketahui.


Sebab itulah, risalah pertama Allah ﷻ terhadap para utusan-utusanNya adalah untuk memberikan penjelasan kepada ummat manusia tentang dzat Allah ﷻ


Di dalam al Qur’an, Allah ﷻ berfirman,


“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”

(QS. Al Anbiya’: 25)


Sejak ulama salaf, pembahasan tentang aqidah merajai dari segala pengetahuan yang ada pada saat itu.


Maka dari sinilah ilmu Tauhid lalu disusun dengan rapi sehingga menjadi sebuah disiplin ilmu yang berisi tentang jalan menuju Allah ﷻ dan mengenal-Nya dengan mudah, bukan jalan untuk menyesatkan orang beriman, apalagi sampai menjauhkannya.


Dengan demikian jelas bahwa tujuan utama dari ilmu Tauhid sebagai sarana menguatkan iman seseorang setelah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah selain Allah ﷻ dan Nabi Muhammad ﷺ adalah utusan-Nya.


Dr. Alawi ibn Syihabuddin, salah satu ulama di Hadramaut Yaman pernah ditanya tentang bagaimana cara memperkuat keimanan, beliau menjawab,


“Jika kamu menginginkan imanmu kuat, maka pelajarilah ilmu Tauhid”

[Dr. Alawi ibn Syihabuddin, Intabah dinuka fi khathar, Hal 9]


Dari jawaban Dr. Alawi ibn Syihabuddin di atas jelas bahwa peran penting ilmu Tauhid adalah untuk memperkokoh keimanan seseorang.


Dengan demikian maka dakwah Tauhid yang seharusnya ditanamkan kepada ummat adalah bagaimana agar mereka semakin mengenal Allah ﷻ hingga keyakinan tentang kebenaran Allah ﷻ sebagai satu-satunya Dzat yang pantas disembah semakin kuat dan tidak mudah roboh.


Tauhid merupakan ilmu untuk membangun keyakinan dan keimanan yang kokoh.


Karena itulah, mari kita pelajari tauhid untuk semata mengokohkan keimanan kita.


Wallahu Ta’ala A’lam bishawab.


Tidak ada komentar:

AR-RAYYAN-MEDIA

UPA bukan sekadar pertemuan mingguan.

UPA - Unit Pembinaan Anggota UPA • Unit Pembinaan Anggota Bukan Sekadar Dudu...