Jumat, 26 Agustus 2022

Berbenah Hati

 

Berbenah Hati


Jangan berharap kebaikan diri, kalau kamu masih malas berbenah diri 


Berbenah diri bukan hanya sebatas tentang memoles penampilan luar


Tapi juga berbenah amalan hati,

Baca juga Aku sang pendosa

Berbenah hati melalui akhlak dan  perilaku kepada Allah, keluarga, diri sendiri dan orang sekitaran


Berbenah diri tak berarti melarangmu menjadi pribadi yang apa adanya...


Tapi, menerima diri apa adanya bukan berarti kamu memelihara sifat buruk yang kamu punya, namun memperbaiki apa yang harus diperbaiki


Jangan sampai memperbaiki diri hanya sebatas penampilan syari'i lantas menghentikan langkahmu untuk berupaya menjadi pribadi yang lebih baik lagi


Seorang muslim wajib memperhatikan kesehatan dan kebersihan hatinya serta memperbaiki amalan anggota badannya.


Tidak bermanfaat amalan badan jika tidak disertai dengan kebersihan dan kesehatan hati.


Seandainya seorang muslim telah memperbaiki hati dan mengisinya dengan keikhlasan, kejujuran, dan rasa cinta kepada Allah, niscaya amalan lahirnya akan baik dan shalih.


Jika hati itu benar-benar sehat, isinya hanya ada rasa cinta dan takut kepada Allah, niscaya tubuh pun akan dekat dengan ketaatan dan semakin jauh dari kemaksiatan.


Sebaliknya, jika hati telah sakit, isinya penuh dengan hawa nafsu, syahwat dan keinginan jiwa yang tidak terkendali, maka tubuh pun akan rusak karena sejatinya dia hanya mengikuti apa yang tersimpan di hati.


Hati merupakan hal penting yang harus dijaga dan dirawat.


Hati adalah pondasi amalan dan sumber pergerakan anggota badan.


Jika hati baik, maka badan ikut baik.

Jika hati rusak, badan pun ikut rusak.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat perhatian dengan perkara hati; sehat sakitnya dan bersih kotornya.


Doa–doa Rasulullah dipenuhi dengan permohonan agar Allah selalu menjaga dan memperbaiki kondisi hati yang dimiliki olehnya.


Diantara doa-doa Rasulullah :


اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا


“Ya Allah, berikanlah cahaya di hatiku.”


اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ


“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyuk.”


اللَّهُمَّ نَقِّ قَلْبِي مِنْ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ


“Ya Allah, bersihkanlah hatiku dari dosa-dosa sebagaimana pakaian putih yang dibersihkan dari kotoran.”


اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا


“Ya Allah, berikanlah ketakwaan di hatiku dan sucikan dia karena sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik zat yang dapat menyucikannya. Engkau adalah pemilik dan penjaganya.”


يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ


“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

BACA tentang penilaian orang

📃Hati sebagai Raja


Dengan demikian pantas jika dikatakan hati adalah inti atau raja dari setiap manusia.


Sebab, pikiran, ucapan dan perilaku manusia sangat ditentukan oleh kondisi hatinya.


Rasulullah bersabda,


“Sesungguhnya di dalam diri manusia ada segumpal darah (hati), apabila hati itu baik maka baik pula seluruh diri dan amal perbuatan manusia dan apabila hati itu rusak, maka rusaklah seluruh diri (amal perbuatan manusia tersebut). Ingatlah, ia adalah hati.” (HR. Bukhari-Muslim).


Untuk itu guna memastikan hati kita tetap menjadi raja yang benar dan baik, upaya untuk senantiasa menjaganya menjadi kebutuhan paling azasi dari diri setiap Muslim.


Dan, satu cara strategis untuk memastikan hati tetap dalam kebenaran adalah dengan senantiasa melakukan dzikir kepada Allah Ta’ala.


Allah berfirman,


“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.”

(QS. Ar-Ra’d [13]: 28).

Tidak ada komentar:

AR-RAYYAN-MEDIA

UPA bukan sekadar pertemuan mingguan.

UPA - Unit Pembinaan Anggota UPA • Unit Pembinaan Anggota Bukan Sekadar Dudu...